Selasa, 07 September 2010

Tanpa Judul

Jika suatu saat Tuhan Yang Maha Baik berkenan,



Aku ingin menjelajah waktu bersamamu,cukup naik sepeda kumbang kehitaman berdua menembus senja,mengitari jingga yang pucat dengan angin yang bermain bersama pucuk cemara,aku diboncengan belakang yang memeluk pinggangmu erat-erat takut terlepas. Dan kau dengan sengaja sekali dua mengolengkan setang saat tikungan. Dan kita menderaikan tawa. Berdua.



Aku akan terus menendang-nendang udara sedangkan kau bersenandung ringan sambil terus mengayuh sepeda. Lagu indah tentang kelinci hutan dan pasar malam. Membiarkan angin melambaikan rambutku dan mengembangkan kemejamu. Membiarkan bintang gemintang ikut kasmaran di atas sementara senja sudah lama terlipat.



Hujan yang turut ambil bagian,membasahi kita dengan lembut,tetes kecil yang teratur memukul tanah membangunkan peri yang tertidur dalam kuntum-kuntum seroja merah muda. Yang kau tahu itulah mengapa hujan membawa aroma khas saat pertama tiba.

Sementara kita meneruskan bersepeda mengelilingi negeri buatan kita berdua,

negeri dimana hanya kita,angin,hujan,bunga,dan semua yang baik-baik saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown