Senin, 11 Oktober 2010

Percakapan antara ibuk,mbak dan (f*ckin') dokter

Hari itu adalah hari kedua Arsa,cucu lelaki kesayangan ibuk,tiap malam menangis kesakitan. Tangis yang tidak seperti tangis minta susu atau terganggu waktu tidur. Jujur,Arsa adalah bayi 6 bulan yang jarang sekali menangis,dulu waktu disuntikpun dia hanya menggerung pelan,kalau ada hal yang sampai membuat dia dari magrib sampai subuh menangis (menjerit) kesakitan bisa kami bayangkan itu adalah sakit yang luar biasa untuk bayi sekecil dia.

Kami sudah cukup bersabar menunggu dari malam pertama Arsa menangis kesakitan,berharap besok pagi semua akan baik saja,dan benar pagi datang dan Arsa seceria biasa. Kami menghela nafas lega Tapi saat malam,semua berbeda. Serumah tak ada yang tega unuk sekedar terlelap ketika Arsa mulai menangis,kami berusaha memeluknya bergantian,meminjamkan lengan untuknya cengkeram saat sakitnya menjalar,dan menggendongnya agar dia tenang dan tak membangunkan tetangga.

Sampai paginya kami tidak tahan,melihatnya kesakitan,kasihan. Hingga akhirnya mbak memutuskan membawa Arsa ke rumah sakit X untuk periksa,rumah sakit tempat Arsa dirawat inap karena infeksi pencernaan.
Di rumah sakit,mbak,ibuk dan Arsa (yang suaranya sudah nyaris lenyap karena terlalu banyak menjerit) langsung mendatangi ruang praktek dokter spesialis anak yang biasanya,sebut saja dr. A. Setelah Arsa periksa darah dan uji lab (dan hasilnya semua normal),mbak dan ibu menemui dokter di ruangannya.

Dr A    : Sakit apa bu cucunya?
Ibu       : Perutnya sakit dok,kedengeran suara krues-krues. Kalao udah gitu nangis terus.
Dr A    : Bayi nangis yo biasa. Mosok gak pernah liat bayi nangis to bu…
Mbak    : Eeknya ijo dok.
Dr A    : (sambil mengenakkan posisi duduknya) lha terus maunya warnane apa? Ireng? Abang? Kalau mau saya bisa kok buat eek.nya item tah abang. Tinggal minta warna apa wiss..
Ibu       : Lho dok,bukan begitu…
Dr A    : Nek eek.e ndak mau warnane ijo yo ibuk’e pake kaca mata item wae. Mengko re warnane jadi item.
Mbak    : ANAK SAYA TIAP MALEM NANGIS KESAKITAN TERUS DOK.
Dr A    : Bayi nangis itu biasa buuu…. Yaudah,nanti saya kasih vitamin saja. (katanya dengan nada tidak sabar)

Ibuk dan mbak keluar dengan perasaan yang semua bisa banyangkan. Mungkin dokter itu tidak tahu sakit Arsa itu. Tapi setidaknya dia bisa berbicara dengan sedikit lebih santun,lebih terhormat dan lebih beradab dari ucapannya tadi. Seterhormat profesi yang disandangnya saat ini. Sayang, dia tidak mengerti,lelaki kecil itu sangat berharga bagi kami,bahkan walaupun usianya baru 6 bulan tapi dia tetap bagian dari kami. Mendengar dan melihatnya menangis kesakitan rasanya seperti kami juga merasakan sakit yang sama. Tapi dokter itu TIDAK TAHU. Dia TIDAK PAHAM.

Dan entah sadar atau tidak aku merasa dia sudah melanggar sendiri sumpah Hippocratesnya.

(Sorenya Arsa dibawa ke dokter lain,langsung ditangani dengan professional,dan diberi obat Disentri penyakitnya selama ini dan Alhamdulillah Arsa sudah membaik sampai saat ini)

Kamis, 07 Oktober 2010

Aku dan list panjang pegabulan doa milik Tuhan

Kadang aku berfikir TuhanYang Maha Segala sedang sibuk mengurus semua hal yang ada dan yang tidak ada di bumi ini. Memastikan  apakah daun yang jatuh benar-benar jatuh dari dahannya di persekian detik yang telah ditentukan, memastikan angin berhembus ke arah yang seharusnya, memastikan burung-burung mengeluarkan bunyi yang semestinya,Jupiter dan semua benda-benda besar di luar sana masih pada posisinya masing-masing dalam konstelasi raksasa bernama tata surya, atau semua hal lain yang terlalu banyak jika katakan satu persatu di sini.

Aku pikir Dia pasti sibuk sekali,mendengarkan doa-doa manusia yang menyembah atas namaNya atau atas nama sesuatu yang dianggap mereka Tuhan mereka. Bahkan doa-doa dari mereka yang tak mengenalNya pun masih didengarkan olehNya,lalu satu-persatu Dia akan menentukan doa mana dan dengan cara apa itu semua dikabulkan.

Dan aku merasa doa-doaku selalu di antrian terakhir list pengabulan doa milikNya. Dari sekian banyak doa yang sudah makhluk ciptaanNya panjatkan,doaku masih betah berada diujung kertas panjang daftar doa yang segera dikabulkan. Panjangnya? Mungkin keililing bumi kali lima. Dan aku berani bertaruh itu masih dalam bilangan minimal.

Tapi sekarang,di detik catatan ini kubuat,aku sedikit agak memaksa agar Tuhan berkenan memberikan aku kompensasi agar doa di ujung daftar pengabulan doa itu naik beberapa tingkat. Seperti petugas loket yang dengan ramah mengijinkan seorang tetangga dekat rumah memotong antrian yang sebenarnya terlalu panjang.

Aku ingin memaksa Tuhan agar sesegera mungkin menjawab doaku yang sejak dulu terserak di urutan terbuncit list agungNya. Doa yang tersendat diam di tempat seperti mobil kelebihan muatan yang bocor ban depan belakang. Karena aku sudah terlalu lelah menunggu,sementara orang lain yang bermulut manis menyuruhku bersabar. Sayang mereka sedetikpun tak pernah merasakan menjadi aku.

Semoga Tuhan masih berbaik hati padaku.
Yellow Crown