Kamis, 07 Oktober 2010

Aku dan list panjang pegabulan doa milik Tuhan

Kadang aku berfikir TuhanYang Maha Segala sedang sibuk mengurus semua hal yang ada dan yang tidak ada di bumi ini. Memastikan  apakah daun yang jatuh benar-benar jatuh dari dahannya di persekian detik yang telah ditentukan, memastikan angin berhembus ke arah yang seharusnya, memastikan burung-burung mengeluarkan bunyi yang semestinya,Jupiter dan semua benda-benda besar di luar sana masih pada posisinya masing-masing dalam konstelasi raksasa bernama tata surya, atau semua hal lain yang terlalu banyak jika katakan satu persatu di sini.

Aku pikir Dia pasti sibuk sekali,mendengarkan doa-doa manusia yang menyembah atas namaNya atau atas nama sesuatu yang dianggap mereka Tuhan mereka. Bahkan doa-doa dari mereka yang tak mengenalNya pun masih didengarkan olehNya,lalu satu-persatu Dia akan menentukan doa mana dan dengan cara apa itu semua dikabulkan.

Dan aku merasa doa-doaku selalu di antrian terakhir list pengabulan doa milikNya. Dari sekian banyak doa yang sudah makhluk ciptaanNya panjatkan,doaku masih betah berada diujung kertas panjang daftar doa yang segera dikabulkan. Panjangnya? Mungkin keililing bumi kali lima. Dan aku berani bertaruh itu masih dalam bilangan minimal.

Tapi sekarang,di detik catatan ini kubuat,aku sedikit agak memaksa agar Tuhan berkenan memberikan aku kompensasi agar doa di ujung daftar pengabulan doa itu naik beberapa tingkat. Seperti petugas loket yang dengan ramah mengijinkan seorang tetangga dekat rumah memotong antrian yang sebenarnya terlalu panjang.

Aku ingin memaksa Tuhan agar sesegera mungkin menjawab doaku yang sejak dulu terserak di urutan terbuncit list agungNya. Doa yang tersendat diam di tempat seperti mobil kelebihan muatan yang bocor ban depan belakang. Karena aku sudah terlalu lelah menunggu,sementara orang lain yang bermulut manis menyuruhku bersabar. Sayang mereka sedetikpun tak pernah merasakan menjadi aku.

Semoga Tuhan masih berbaik hati padaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown