Jumat, 26 November 2010

Sinergi antara aku,kamu,jeda dan aroma teh merah bata kecokelatan yang mulai menghilang.

Di sini,
Di tepian hari yang lebih cocok dihabiskan dengan menikmati Pachelbel dari hujan yang datang sebulan sekali, aku dan kamu hanya bertukaran pandang antara teh merah bata kecokelatan dan pohon oak tua yang mulai capai menahan batang di seberang.

Kita yang berhadap tidak juga menemukan kata yang tepat untuk sekedar menggantikan ‘apa kabar’ yang terucap setelah beberapa jeda. Jangan tanya rasa apa yang dilambungkan hatiku saat ini,kau bahkan sudah meninggalkan kamus pembaca hatiku entah dimana. Dan kita hanya menjadi sepasang bayangan yang mereka tentang matahari yang kelak membawa kita memanjang.

Secangkir teh merah bata kecokelatan yang diseduh cukup lama,menyisakan tarian uap yang terbawa terbang lalu menghilang.
Dan pohon oak terlihat bosan melihat kita hanya merenggang diam. Pohon oak yang terlihat tidak lebih mengenaskan daripadaku sekarang. Setidaknya aku tahu,pohon itu punya batang yang cukup kokoh untuk melindunginya dari angin atau hujan badai dari segala arah. Aku merutuki diri yang ditakdirkan lahir tanpa batang kokoh ataupun akar yang cukup kuat untuk mencengkeram tanah.

Yang bisa aku lakukan sekarang adalah tersakiti sejadi-jadinya dan aku akan menjadi kuat lebih dari pohon oak yang pernah ada. Karena aku adalah pembelajar yang baik,dan aku yakin itu benar.
Menyesap teh merah bata kecokelatan untuk terakhir kalinya,menyisakan beberapa tetes di cangkir kecil keemasan.
Menerawang beberapa saat.
Menghela nafas.
Menyusur harmoni kwartet yang sedari tadi sudah dimulai,kwartet yang sebenarnya kubenci. Ya,senergi antara aku,kamu,jeda dan aroma teh merah bata kecokelatan yang mulai pergi.
Semua prolog dan monolog masih menggantung di pangkal lidah dan aku sudah terlalu lelah beranalogi tentang kemudian.
Sekarang aku lebih memilih untuk menghitung berapa acorn yang akan kuselipkan dijemarimu yang mulai tak hangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown