Kamis, 27 Januari 2011

Feminisme di Mata Saya (Sebuah Esai yg Tertunda)


Feminisme, gerakan penyamaan hak antar gender laki-laki dan perempuan, menurut saya terdapat sisi positif dan negatifnya. Sisi baiknya yaitu adanya pengakuan untuk gender tertentu yang di masyarakat yang masih dipandang sebelah mata. Seperti di Indonesia,saat jaman penjajahan perempuan dibatasi untuk keluar rumah,pendapatkan pendidikan bahkan mengeluarkan pendapat. Namun sisi negatifnya adalah penyimpangan kodrad dari satu gender yang secara  berlebihan.

Saya yang terlahir dari keluarga yang memeluk Islam,mengakui adanya keistimewaan kedudukan pada laki-laki. Dalam hal ini laki-laki mendapat kedudukan sebagai imam atau pemimpin keluarga. Dan perempuan tidak dapat menggantikan laki-laki untuk menjadi imam keluarga tersebut apapun alasannya.

Feminisme di mata saya adalah suatu gerakan sosial yang seharusnya diapresiasi dengan baik dan tidak berlebihan. Seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu ketika seorang motivator yang biasa dilihat di televisi memposting beberapa kalimat yang dirasa menyinggung para ‘feminis’ di akun jejaring sosial, karena melontarkan pernyataan bahwa seorang wanita perokok dan suka ‘clubbing’ tidak layak untuk dinikahi. Saya pribadi lebih setuju dengan pendapat motivator tersebut,karena pada dasarnya seorang istri atau calon ibu yang baik tidak sepantasnya merokok dan dan keluar malam untuk ‘clubbing’. Jadi nih ya,kalo ada seorang ibu suku ‘minum’ terus terus nyusui anaknya,gimana dong? Kan anaknya ikut teler juga kan ya?

Lagian kalo ditanya apa sih tugas seorang wanita dalam keluarga? Kita bicara tentang agama aja,di Al Quran (Saya menyebutkan Al Quran karena satu-satunya kitab agama yang paham sedikit isinya,kalo yang lain mah ngga tau saya),nggak pernah sekalipun bilang kalo perempuan harus merawat anak-anak dan mengurus rumah. Yang ada hanya seorang istri harus patuh dengan suami,sekarang kalo ada suami yang terang-terang nyuruh ngpel, nyuci, nyetrika atau masak saya sarankan: sana cari pembantu aja,jangan cari istri!
Lha terus si anak tanggung jawab sapa? Ya bapaknya lah. Istri hanya perlu mengandung, melahirkan dan menyusui, (yang terakhir bisa ditoleransi kalo memang tidak memungkin bagi si ibu,tapi kalo yang sebelumnya" hukumnya wajib tuh! Melahirkan tanpa mengandung? Emangnya bisa ??!) Kalo pun seorang ibu sangat berperan dalam pengajaran moral pada anak karena ibu lebih halus perasaannya dan lebih punya ikatan batin ke anak dan nggak ada alesan lain.

Terus,urusan rumah tangga? Urusan suami juga sebenarnya tapi berhubung suami uda kerja cari nafkah jadi istri akan lebih berperi kemanusiaan jika ikut membantu suaminya dalam hal urusan remeh-temeh rumah tangga. Jadi nggak ada hukumnya istri nggak ngpel 3bulan kena talak! Beda sama suami.
Dan lagi katanya sih ya, setiap ayunan sapu, setiap kucekan baju (atau setiap puteran mesin cuci) dan setiap osengan masakan adalah satu langkah perempuan itu buat ke surga. Indahnya jadi perempuan :")
 
Jadi kesimpulan dari esai saya ini adalah, setuju dengan adanya persamaan hak untuk laki-laki dan perempuan,hak dalam hal mendapat pendidikan, mengemukakan pendapat dan segala sesuatu yang memang telah ditetapkan dalam undang-undang. Namun persamaan hak itu hendaknya juga tidak menyimpang dalam koridor agama dan kodrat manusia. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown