Sabtu, 01 Januari 2011

Tempat Gunung Berjumpa Rembulan

(Cerita ini diikut sertakan pada lomba menulis suatu penerbitan,tapi belum berhasil dapat juara,mungkin lain kali yaa)


Di suatu negeri yang indah, dengan hamparan tanaman berbunga merah muda di setiap sudut jalanan,seorang gadis kecil duduk di tepi kolam ikan depan rumahnya. Wajahnya yang sebenarnya bercahaya ceria terlihat redup,sudah beberapa bulan ini ibunya jatuh sakit. Sudah beberapa kali pula ibunya dibawa ke tabib untuk menyembuhkan sakitnya. Hampir semua tabib di negeri didatangi. Tapi hasilnya nihil. Ibunya semakin lemah, semakin kurus dan pucat. Sedangkan ayah Aira sudah beberapa bulan menghilang tidak ada kabar.
Terakhir kali ayahnya berpamitan untuk menjual sutera ke negeri seberang,tapi sampai sekarang belum juga pulang. Aira yang baru berumur enam tahun setiap hari mengunggu kepulangan ayahnya di depan rumah. Berdoa.
Aira masih menangis,hingga tidak memperhatikan apa yang terjadi. Ikan mas koki itu tiba-tiba membesar dan memancarkan cahaya keperakan. Cahaya yang memancar kuat itu menyilaukan sampai beberapa mil dari rumah Aira. Dan Aira nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak ada lagi ikan mas koki yang berenang di kolamnya,yang ada adalah seekor naga besar berwarna merah menyala. Naga besar dengan mata hijau yang indah, melayang di udara, dua pasang kakinya terlihat kokoh di tubuh bersisik yang gagah.
“Kau…kau..”
“Iya Aira,aku adalah naga. Naga yang terperangkap di tubuh seekor ikan mas koki kecil yang ditangkap ayahmu beberapa waktu lalu.”kata sang naga. Suaranya menggema hebat, menggetarkan dedaunan pohon plum yang tumbuh di sekitar rumah.
 “Aira,kau adalah gadis yang baik. Yang sangat sayang pada ibumu yang sakit. Kau mau dia sembuh?”
Aira mengangguk pelan.
Sang Naga menggeliat. Matanya yang besar meredup tiba-tiba. Dia menoleh ke arah rumah Aira. Menghela nafas panjang.
“Aku bisa saja membawamu ke tempat Kakek Rembulan,dia orang paling sakti yang pernah ada. Tapi,aku ragu apa kita sudah terlambat…”
Aira kemudian bergegas menuju rumahnya. Didapatinya tubuh sakit ibunya dingin sedingin es wajahnya pucat namun terlihat bahagia.
“Aira…ayah,sudah menunggu ibu.”
Dan itulah kata-kata terakhir ibu untuknya. Aira bergegas kembali pada sang naga.
“Kau bilang kakek Rembulan adalah orang paling sakti kan? Berarti dia bisa menghidupkan ibu lagi kan? Iya kan?”
Sang Naga menggeleng,”jujur aku tidak tahu,Aira.”
“Bawa aku padanya. Kumohon.”
***
Tidak lama Aira dan sang Naga sudah berada di tempat tinggal Kakek Rembulan. Di Gunung Nirbuah,gunung yang menjulang tanpa tanaman ataupun hewan yang hidup di sana.
“ Aku bisa saja menghidupkan kembali ibumu,gadis kecil. Tapi untuk itu, aku punya satu syarat.”
“Katakan saja,kakek.” Kata Aira bersemangat. Ia akan melakukan apa aja untuk bisa bersama lagi dengan ibunya.
“Baiklah,syaratnya adalah katakan padaku seberapa besar cintamu pada ibumu dan alasan yang tepat untukku agar mau membantumu menghidupkan kembali ibumu. Keberi waktu kau sehari sampai besok bulan menyentuh puncak gunung ini untuk memikirkan semuanya.”kata Kakek Rembulan.
Aira mengangguk,”Aku akan berusaha,kek.Tapi apa kau juga bisa mengembalikan ayah padaku sama seperti ibu?
Kakek menggeleng,”Hanya ada satu pengabulan permintaan,Aira.
***
Dalam perjalanan pulang,Aira memikirkan semua perkataan Kakek Rembulan.
“Aku belum juga punya jawaban yang bagus untuk besok,naga.”
“Jawaban itu ada di hatimu,sayang. Yang perlu kau lakukan adalah melihat hatimu dalam-dalam dan temukan apa yang kau cari disana.”
Aira memeluk tubuh naga erat-erat dan membenamkan wajahnya ke tubuh hangat sang naga,ibu aku sangat merindukanmu sekarang.
***
Besok malamnya. Tepat sebelum purnama menyentuh puncak Gunung Nirbuah. Aira sudah menyiapkan jawaban terbaiknya untuk Kakek Rembulan.
“Jadi,apa jawabanmu untuk pertanyaanku kemarin,gadis kecil?”
Aira mendekat. Menghela nafas panjang.
“Aku tidak bisa mengungkapkan seberapa besar cintaku padanya,kek. Ibu yang selalu memasak bubur untukku, mengepang rambutku, dan mengajariku menulis dan berhitung. Ibu yang selalu ada saat aku butuh,selalu siap kapan saja mengganti kompresanku saat aku demam. Tapi aku belum juga bisa mengungkapkan sebesar apa cintaku padanya. Padahal aku sudah berusaha.”
Kakek Rembulan mendekat,memeluk Aira erat,”itulah cinta,Aira. Terkadang tidak bisa digambarkan seberapa besar kau mencintainya. Kau hanya bisa merasakan. Sekarang,aku akan menepati janjiku. Akan kuhidupkan kembali ibumu.”
“Itu sudah tidak perlu lagi,kek. Kupikir,ibu lebih bahagia di sana. Bersama ayah. Sebelum meninggal ibu bilang ayah sudah menunggunya. Dan dia tersenyum,ibu terlihat sangat bahagia.”kata Aira. Matanya berkaca-kaca.
Kakek Rembulan tersenyum,”Kau gadis yang baik,Aira. Tapi aku tahu kau sangat merindukan mereka sekarang,bagaimana kalau kupanggil mereka turun sebentar dari surga agar kau bisa mengatakan betapa kau mencintai mereka?”
Lalu benarlah,tiba-tiba langit malam bercahaya terang. Terlihat dua sosok yang dikenal Aira turun dari langit seolah terbang. Ayah dan ibunya. Aira berlari menyambut mereka,memeluk erat dan mengatakan betapa ia mencintai mereka.
Saat itu rembulan tepat menyentuh puncak Gunung Nirbuah. Dan sejak saat itu jika purnama tiba dan tepat menyentuh Gunung Nirbuah,terkadang orang-orang bisa melihat biasan cahaya indah di puncaknya. Itulah ayah dan ibu Aira yang datang untuk mendengarkan betapa Aira begitu mencintai mereka. Dan mereka membalasnya dengan biasan cahaya keperakan yang indah.
 ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown