Selasa, 01 Februari 2011

Februari (Bagaimana saya harus mengejanya)

Sudah Februari. lagi.

Entah kenapa februari seperti membawa sesuatu setiap kali saya memikirkannya. februari yang dingin dengan sisa-sisa hujan januari. februari yang selalu membawa helaan nafas panjaaaaaaang sekali. ya, februari.

Februari tahun lalu, langkah terbesar saya dalam 17 tahun kehidupan saya. (kehidupan yang akhir-akhir ini saya merasa untuk apa dilahirkan. saya belum melakukan sesuatu yang bisa membuat dunia merasa tidak sia-sia menerima saya untuk berpijak setelah sekian lama). Ujian masuk UNN*S,  dengan si ijo diantar bapak ke pati. saat itu dengan Mita berangkat pagi-pagi. hampir nyasar lalu tanya sama Tata yang ternyata tidak membantu sekali.

Soal UM yang nyaris membuat depresi. saya tidak membaca peringatan tentang pengurangan nilai atau apalah namanya itu. saya mengerjakan semua. terutama IPA dengan mengandalkan kemampuan menghayal saya yang diluar rata-rata. saya bahkan hanya menyentuh sedikit soal IPS, terlalu mendalami tenyata bisa menimbulkan banyak persepsi.
Dan sepanjang Ujian itu hujan turun deras sekali. belakangan saya tahu bapak juga turut berjuang bersama saya. beliau sholat dhuha dengan rakaat lebih dari dua. dan menyempatkan membeli makan siang untuk saya dengan berjalan kaki plus nyasar pula.
dan waktu itu hujan.
mungkin karena hujan pula seperti pertanda Tuhan sedang membagi 'kesangat-baikan'Nya sehingga akhirnya saya bisa diterima di sana.

Februari setahun belakang. seharusnya menjadi tahun paling menyibukkan,dengan agenda belajar dan tambahan mata pelajaran. juga try out yang pada akhirnya soalnya lebih mudah dari ujian nasional sebenarnya.
Tapi februari tahun lalu berbeda. saya kehilangan sosok yang paling menyenangkan selama di SMA.
sosok yang selalu bersemangat dan selalu berhasil membagi energinya untuk orang-orang di sekitarnya.

teman saya berpulang,dengan sangat tiba-tiba. saat berangkat ke sekolah keesokan harinya setelah ikut ujian masuk yang sama dengan saya. hari senin saat itu,upacara bendera -yang entah mengapa kebetulan bendera ngadat di setengah tiangnya saat dikibarkan-
dan dia adalah ketua kelas terhebat yang pernah saya kenal. walau pun sering mengeluh 'aaaaah,aku meneeeh' tapi sebenarnya dia baiik sekali.
saya masih ingat bincangan ringan kami dua hari sebelumnya. saya duduk di bangku di depannya. bercerita banyak tentang masa depan. bagaimana dia begitu mencintai keluarganya dan bagaimana dia ingin membahagiakan mereka.

Juga tentang pesan-pesan manis yang ditinggalkannya. Wingko babat. Kangen-Dewa. Tulisan di buku pinjaman.

Semua berkesan di Februari setahun silam.

Juga tentang rumah sakit, obituari dan pemakaman. tentang percakapan singkat kami di depan pusaranya, tentang kuliah -entah dimana dan akan jadi apa kita tahun depan-.


Miss you so damn much,sir :')

Itulah februari setahun silam. Dan februari tahun ini, mungkin tidak semenakjubkan tahun kemarin.
Tapi setidaknya saya ingin mengubahnya, karena saya baru menginjak di hari pertama di Februari,dan saya tidak mau Februari saya berakhir dengan tragis (baca: menyesal jika sudah berakhir). :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown