Minggu, 06 Februari 2011

NICKO’S LOVE


“Nicko…”panggil Rena.
Aku melirik jam biru muda bergambar kucing persia yang tergantung di dinding ruangan. Jam 16.00,Rena yang masih memakai seragam putih abu-abunya. Terlambat lagi. Mungkin masih karena Pentas Seni atau apalah yang Rena ceritakan kemarin. Dan aku selalu tidak terlalu senang Rena pulang terlambat. Aku tahu betul siapa Rena dan kebiasaannya,terlalu sering di sekolah dan terlambat pulang membuat jadwal makannya berantakan dan akhirnya maagnya selalu kumat. Rena yang sakit selalu menyedihkan. Dan aku yang melihatnya tidak kalah menyedihkan darinya. Jika Rena sakit rasanya seperti separuh tubuhku juga ikut sakit.
“Nicko…”panggilnya lagi.
Rena masih secantik biasanya. Rambutnya yang pendek sebahu dibiarkan tergerai.
“Bersiaplah. Kita akan jalan-jalan sore ini.”
Aku menggeleng,”Tidak. Tidak kau baru pulang sekolah. kau pasti capek.”
Tapi Rena seolah tidak mendengarku.
“Tunggu aku mandi sebentar ya…”
Rena seperti tidak perlu mendengar pendapatku. Dia bergegas menuju kamar mandi masih dengan seragam lengkapnya. Aku berbalik menuju jendela. Gerimis di luar mungkin akan berubah jadi hujan. Dan Rena suka sekali hujan. Kadang nekad keluar rumah untuk sekedar bermain di kungkungannya atau hanya sekedar menatapnya lamat-lamat dari balik jendela kamarnya yang hangat.
Aku selalu mengingatkan agar dia tidak sering hujan-hujanan agar tidak masuk angin,flu,pilek atau apalah nama penyakit yang mungkin dibawa oleh hujan. Tapi Rena selalu tidak mau dengar dan tetap bersenang-senang di bawah kungkungan hujan. Dan Rena terlihat bahagia. Sangat bahagia. Dan hujan selalu membawa kenangan yang indah untukku. Karena mungkin karena hujanlah aku dipertemukan Tuhan dengan Rena.
Aku bertemu Rena kurang lebih dua tahun yang lalu. Pertemuan pertama kami terjadi di jalanan menuju rumah Rena. Hari itu hujan dan di kejauhan aku melihat seseorang dengan gaun putih membawa seikat besar bunga anyelir. Aku pernah mendengar tentang dongeng peri bunga yang muncul di tiap kali turun hujan. Peri bunga yang turun dari langit untuk mengantarkan kebahagiaan pada manusia. Dan kupikir dia pasti peri bunga yang sering diceritakan itu.
“Hai…kau baik-baik saja?”tanya gadis itu ramah.
Aku mengangguk,masih berfikir apakah dia memang seorang peri bunga.
Gadis itu tertawa renyah,”namaku Rena. Mulai sekarang kita berteman ya?”
Ya,dia manusia biasa ternyata.
Mungkin seperti itulah pertemuan pertama kami. Mulai saat itu kami berteman. Teman yang akrab. Rena sering cerita banyak padaku,tentang teman-temannya,sekolahnya atau orang tuanya yang sekarang berpisah satu sama lain. Tapi akhir-akhir ini Rena juga sering sekali membicarakan tentang seseorang. Namanya Randy. Teman satu sekolahnya yang juga tetangga dekat rumahnya.
Randy. Seperti apa aku menggambarkannya? Dia seorang lelaki yang baik menurutku,aku pernah tidak sengaja melihatnya menyeberangkan kakek tua di jalanan besar. Tapi aku sadar melihat kebaikan seseorang tidak cukup dengan pernah sekali melihatnya membantu orang tua menyeberang.
Aku menggeleng,kalau pun Rena memang menyukainya aku tidak pernah bisa berbuat apa-apa. Memaksanya menyukaiku juga? Ah,aku hanya bisa tertawa. Tidak mungkin itu kulakukan. Jangan tanya perasaanku pada Rena,aku bahkan sudah mencintainya sejak pertemuan pertama kami. Dan perasaan itu tidak berubah meski dua tahun sudah berlalu. Aku menyukainya saat dia tersenyum, saat dia marah, saat dia sedih, saat dia putus asa, bahkan saat dia menangis. Aku menyukai apa adanya dirinya.
Pertanyaannya sekarang,apa Randy bisa mencintai Rena sama seperti aku mencintai gadis itu? Jujur aku hanya bisa merelakan Rena pada laki-laki yang dengan tulus mencintainya. Dan pada Randy aku belum menemukan alasan itu untukku merelakan Rena. Tapi aku tidak mau Rena sedih,jadi aku hanya menyimpan semuanya sendiri. Dan memasang wajah tersenyum tiap kali Rena mulai bicara tentang Randy meski sebenarnya hatiku berkata lain.
“Nicko,kamu sedang apa?”tegur Rena tiba-tiba.
“Melihat hujan.”jawabku singkat.
Rena mendekat,aroma sabun yang manis tercium dari tubuhnya,”Cuma gerimis,kan.”
Aku mengangguk. Bagiku gerimis selalu lebih baik dari hujan.
“Nicko…bagaimana penampilanku sehabis mandi?”tanyanya.
Aku menoleh,mengamatinya dari atas ke bawah. Rena selalu cantik bagiku. Bahkan saat masih berantakan sehabis tidur. Tapi sepertinya dia tidak tahu itu.
“Cantik.”jawabku singkat.
Rena tersenyum,”terima kasih,Nicko. Jujur,sebenarnya aku tidak yakin apa kau berkata jujur. Ayolah,kita sudah lama berteman. Kau bisa saja mengatakan semua untuk menyenangkanku,kan.”
Aku menatap Rena lama.
“Apa maksudmu?”
Rena berbalik,lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Mengambil bantal kursi dan membenamkan wajahnya dalam-dalam.
“Ya ampun,Nicko. Kau tidak tahu betapa kacaunya aku sekarang! Aku sendiri juga tidak mengerti. Apa yang harus kulakukan?”katanya,”kau pikir aku menyukainya? Iya, kuakui memang benar. Lalu kenapa? Apa yang harus aku lakukan? Datang padanya lalu bilang kalau aku menyukainya? Itu konyol. Aku tidak cantik dan dia tidak mungkin menyukaiku”
Aku menghela nafas panjang,jadi itu sebabnya. Randy,tidak salah lagi.
“Kenapa kau tidak menghubungi dia? Beri dia sedikit perhatian.”jawabku asal. Aku tahu cara itu tidak selalu berhasil,setidaknya aku sudah melakukannya selama dua tahun lebih dan tak ada hasilnya.
“Maksudmu SMS? Aku sudah melakukannya,Nicko. Dan apa responnya? TIDAK ADA. Dia nyaris tidak pernah membalas SMSku.”
Aku mendekatinya perlahan,”kau membencinya?”
“Mana mungkin aku membencinya. Aku menyukainya.”
Aku menatap Rena lama. Sedikit kasihan dan tidak tahan melihatnya. Aku berbalik,naik ke lantai dua menuju kamar Rena. Kamar yang nyaman dengan dominasi warna merah muda. Menyusuri semua benda di kamar,mendekati laci kecil di sudut kamar. Benda itu pasti ada di sana. Dan benar,aku menemukannya. Mengambilnya dengan sedikit kerepotan. Aku kembali ke tempat Rena sebelumnya. Meletakkan benda warna hitam itu di tangannya.
Rena yang terkejut buru-buru bangun.
“Aku baru saja berubah fikiran,Nicko.”katanya sambil menggeleng pelan.
Aku saja tidak mengerti bagaimana aku bisa melakukan hal itu.
“Nicko…tidak.”
Aku menatapnya. Berusaha menyakinkan meski tanpa suara.
“Jangan memaksa,kumohon…”
Rena terdiam lama.
Hingga akhirnya dia bangkit,”Dasar bodoh. Sangat bodoh.”

***

“Aku benar terlihat cantik,kan?”tanya Rena untuk sekian kalinya.
“Cantik,kok.”jawabku singkat.
Kamu selalu cantik untukku Rena. Apapun baju yang kau pakai, apapun sepatu yang kau pakai kau selalu cantik. Entah kapan kau bisa mengerti itu.
Kami berjalan bersisian menuju taman. Ternyata masih gerimis di luar. Gemiris kecil yang menyenangkan.
“I…itu dia Nicko,dia di sana.”kata Rena menunjuk ke arah seseorang. Randy.
Aku menoleh padanya,”apa lagi yang kau tunggu?”
Rena terlihat ragu-ragu. Meremas tali hitam di tangan kanannya.
“Bagaimana kalau kita lupakan saja? Kita kembali ke rumah, membuat teh dan melupakan kita pergi ke taman sore ini.”
“Sudah terlambat.”kataku tegas.
Aku memutuskan untuk memulai,aku mendekati seorang bernama Randy itu. Seorang yang sedang bermain dengan anjing Dalmation besar miliknya. Dan Rena terpaksa mengikutiku dari belakang.
“Hey,Rena kan?”
Rena mengangguk.
“Jalan-jalan?”
“I-iya,sama temanku,Nicko.”jawab Rena sambil menoleh padaku.
Randy membungkuk,mengelus kepalaku lembut,tangannya terasa hangat. Guk.
“Harusnya kau lebih sering membawa Nicko jalan-jalan jadi kita bisa lebih sering ketemu. Sini kukenalkan anjing eh,temanku Megan.”
Aku tersenyum. Randy sepertinya tidak seburuk yang kuduga. Dan yang paling penting,aku melihat Rena juga tersenyum lebar. Wajahnya memerah bahagia. Bagiku, dari jutaan ekspresinya yang pernah kulihat,inilah yang paling membuatnya terlihat secantik peri bunga. Dan aku menyukainya. Sangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown