Selasa, 15 Februari 2011

Setahun yang lalu

Hari ini tepat satu tahun teman saya, salah satu teman terbaik saya berpulang. Khusnun Eka Arofianto akan selalu jadi ketua kelas terhebat yang pernah saya kenal. Semangatnya yang selalu bisa menular pada sekitarnya, tawanya yang selalu bisa membuat kami ikut larut pada bahagia yang di rasanya. cintanya pada keluarganya yang pernah dengan bangga diungkapkannya. ya, dia orang yang baik dan dipanggil dengan baik pula meski agak terlalu cepat dan tiba-tiba.

Pagi itu setahun yang lalu, rasanya seperti baru kemarin saya menangis di seberang jenazahnya. badannya yang kaku persis seperti tidur pulas, sempurna dengan sedikit bercak darah karena libasan truk tak bertanggung jawab. juga dengan seragam putih abu yang tadi dipakainya, lusuh tergeletak di sudut ruangan. kami menangis. kami tidak percaya. kami ingin dia tiba-tiba bangun dan tertawa karena lelucon yang sudah dia buat. Tapi, semua itu percuma, bahkan detak sekecil apapun tidak ditemukan di dadanya.


Foto ini diambil beberapa hari sebelum Khusnun (paling depan) pergi :')



itu setahun yang lalu, dan kami sudah berdamai dengan kenyataan. dan keluarganya kuharap juga begitu adanya. dia tipe orang yang akan selalu dicintai semua orang. dan masih sama hingga sekarang.
kematian bisa datang dengan tiba-tiba. semua kehendak Tuhan yang kita sendiri tidak tahu kapan datangnya. sedikit saya iri pada teman saya itu, dia meninggal karena terjangan truk yang remnya blong atau supirnya yang mengantuk, entahlah, tapi dia meninggal saat pagi hendak berangkat sekolah.
teman-temannya yang datang berucap belasungkawa banyaaaaaak sekali, juga yang ikut mensholati.
Damai di sana ya kawan, tunggu kami cepat atau lamabat :')

dan saat ini saya berfikir,
apa kematian saya akan sebaik itu?
apa kematian saya juga akan sebanyak itu yang datang mengucap belasungkawa?
apa orang-orang juga masih sudi mengirimkan satu-dua ayat untuk saya yang sudah tidak mungkin kembali ke dunia?

Tidak ada yang tahu kan?
tapi yang paling penting apa saya sudah siap mati? jawabnya saya tahu TIDAK. saya belum cukup amal untuk bisa saya jadikan bekal kebanggaan saat saya menghadap Tuhan saya.
Saya tidak yakin bisa tersenyum saat pemanggilan sepihak oleh malaikat pencabut nyawa, karena saya punya dosa yang jaauuuuh lebih banyak dari jumlah hitungan kebaikan saya.

Ya, saya belum siap. dan semoga Tuhan masih berbaik hati untuk memberi waktu pada saya lebih lama lagi untuk saya mengumpulkan sedikit demi sedikit kebaikan yang mungkin akan saya bawa saat saya benar-benar pulang nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown