Jumat, 06 Mei 2011

kita dan malam duatiga sepuluh purnama itu

Atas nama Tuhan dan demi nama yang telah diberikan bapakku padaku,

Aku berjanji suatu saat akan membawamu ke tempat yang pantas untuk kita menanti hujan di duatiga purnama ke sepuluh, dengan saling dekap dan melengkapi celah jari tangan yang lama menanti tergenapkan.

Menatap angkasa yang kosong, namun penuh dengan cerita betapa-bahagianya-kau-atas-seribu-malaikat yang kuberikan padamu,dulu,waktu itu.

Kita berdua, bertukar cerita tentang kuku, seroja merah muda, karosel keemasan dan mimpi tentang ibukota di tenggara.

Aku, entah mengapa selalu terpesona padamu, China tercantik yang pernah kutahu, masa bodoh dengan Lucy Liu, dan kau terseyum.

Kau tahu,aku selalu gagal membatalkan jatuh cinta padamu. Selalu begitu.
Dan saat matahari meninggalkan kita, kuputusan adalah waktu yang tepat untuk kita menghela jeda, di rintik pertama duatiga purnama ke sepuluh yang indah.

Karena disanalah akan kita dapati aku, kau dan selingkaran perak bermata bintang,
Aku, kau, kita, dan bahagia sebagai simpulnya.

Bersabarlah,sayang,hingga waktu itu tiba.
:)

(Surat dari Ikal untuk A Ling, terinspirasi dari novel Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown