Jumat, 08 Juli 2011

Love Language

Aku masih menekuri maketku ketika lelaki itu mendekat. Aku menangkapnya dari ekor mataku, jalannya terhuyung dan sesekali menghela nafas panjang. Terlihat sekali dia ingin mengatakan sesuatu. Padaku.
Aku menatapnya bergantian dengan maket berwujud bangunan setengah jadi berwarna merah jambu di depanku. Aku mengangkat bahu, belum jadi padahal besok harus dikumpulkan.
Lelaki itu mengangkat tangannya,bisa kita bicara sebentar?

"Bisa nanti saja?" kataku sambil mengambil satu dua bagian pintu yang jatuh di dekat kakiku. Sungguh, aku ingin cepet-cepat menyelesaikannya.
"Tapi aku harus mengatakannya. Sebelum terlambat."
Aku menghela nafas panjang. Melambaikan tangan. Terserah kau saja.

Satu detik. Dua detik. Dia masih diam.
Sedangkan aku sedang kesulitan mencari bahan maketku, terakhir aku meletakkannya di sudut meja, sekarang tidak ada?! Apa aku harus membuat tiga kursi untuk empat orang? Jangan bercanda, ini bukan bis kota.

"Kau terlalu sibuk, akhir-akhir ini." katanya,"kau bahkan seringkali melupakan sarapan dan makan siangmu."
"Aku bukan anak kecil lagi" kataku sambil menyusuri laci-laci dan setumpuk HVS putih.
"Maaf..."
"Ya ampuun, di sini rupanya...."seruku melihat benda yang kucari teronggok di sela tumpukan bahan tugas akhir.
"Jaga kesehatanmu, bagaimanapun juga kau ini perempuan. Suatu saat kau harus bertemu seseorang dan melahirkan satu dua anak."
Aku mendesah,"aku tidak berencana punya satu dua anak. Aku ingin sepuluh."
Lelaki itu tersenyum sekilas, "itu akan sangat merepotkan."

"Berjanjilah kau akan menemukan seseorang yang benar-benar mencintaimu."
Aku menghentikan pekerjaanku. Menatap mata dewasanya yang seringkali terlihat lelah dimataku.

"Seseorang yang benar-benar mencintaimu. Seperti aku."

Aku mendekatinya. Tangannya kembali terangkat, hendak mengatakan sesuatu. Sebelum sempat tangan keriput itu melayang menggambarkan satu dua kata dengan caranya, aku menahannya. Dan entah kekuatan apa yang membuatku tiba-tiba memeluknya. Merasakan detak jantung dan harum tubuh yang begitu kukenal, sejak dulu.

"Jangan pernah berfikir ada orang yang bisa mencintaiku seperti kau mencintaiku. Karena itu mustahil, ayah."

1 komentar:

Yellow Crown