Selasa, 23 Agustus 2011

patah hati

I got this pict from here

" Kita bisa" bisikmu pelan.
Aku menggeleng,tak kalah pelannya. Menatap matamu berharap kau mampu mengartikannya dengan sempurna. Aku kehabisan nafas,baru kali ini aku merasakan asma. Mungkin seperti ini rasanya, dada sesak, tenggorokan tercekat dan udara enggan masuk ke paru-paru yang kupunya. Bahkan sebelum kulihat batas yang menjadi tujuan kita berlari berdua,boleh aku pingsan sekarang?

Dan kau masih menarik tanganku kencang,memaksaku untuk terus melangkah dengan jarak lebar-lebar. Tak kulihat lelah diantara jarak-jarak yang kau susun mantap.
"Aku tidak kuat."aku melepaskan tanganmu,menyisakan jejak keringat di sela jemariku,"pergilah mungkin di depan sana kaudapati orang lain yang kebingungan arah, lupa berbelok atau kehilangan rutenya dan kau bisa mengajaknya berlari bersama agar kau tak kesepian. Pergilah."

Aku perlu mengatur nafas dan berjalan lamat-lamat bukan jawaban yang menjawab. Aku tahu kau tidak akan pernah mampu mengikuti langkahku yang perlahan,kau tak pernah berhasil untuk menyabar. Bahkan setelah kita terlalu mengenal.

"Aku bisa mengendongmu,punggungku cukup kuat dan nyaman untukmu. Juga aku bisa berjalan untukmu, tidak perlu terlalu cepat, perlahan saja." tersenyum.
Ada setumpuk lelah yang kausembunyikan tapi aku selalu berhasil melihatnya, karena lelah adalah sahabatku yang terdekat. Aku mengenalnya lebih dari siapapun juga.
"Aku mencintaimu."katamu. Dan aku tahu, kata-kata itu selalu kau cecerkan sepanjang jalan kita kebelakang. Aku lebih dari hafal untuk tahu caramu mengatakannya, menggambarkan titik di dua i-nya, merimakan spasi diantara kedua katanya bahkan perasaan hangat satu dua detik saat kata-kata itu meluncur keluar .Aku hafal,di luar kepala. Karena aku merasakan hal yang sama saat aku menjawab 'aku juga'.

Dan aku masih kehilangan bayangan harus dengan cara apa kuakhiri cerita kita.

1 komentar:

Yellow Crown