Senin, 31 Oktober 2011

Cinta Tania

            Pasar malam memang selalu ramai. Penjual boneka, sepatu, sandal, kerudung bahkan panci dan oven panggang seperti tidak pernah lelah menawarkan barang dagangan. Barang dagangan yang katanya kualitas nomer satu, tak jauh beda dengan barang-barang yang diiklankan wanita cantik rupawan di layar kaca dengan pakaian minim atas bawah. Sedangkan pembeli juga tidak kalah semangatnya terus menawar harga serendah-rendah. Di sinilah prinsip ekonomi tentang kepuasan maksimal dengan pengorbanan minimal sempurna diterapkan.

Sedangkan tidak jauh dari stan-stan berwarna-warni penjual yang berjajar rapi,terlihat keramaian yang lain. Bianglala dan komidi putar,juga kora-kora dan rumah setan seperti meminta perhatian untuk mereka yang membeli atau sekedar mampir bersama kawan atau pacar. Lampu-lampu yang terpasang ditambah dengan aroma jagung bakar yang menyeruak di antara rumput dan langit yang berbintang menjadikan pasar malam adalah momen yang indah yang sayang jika dilewatkan.
Tapi Tania seperti tidak peduli dengan semua yang ada di sekitarnya saat ini. Sudah lebih dari  setengah jam gadis berlesung pipi itu menunggu di bawah pohon mahoni besar di samping pintu masuk pasar malam. Dia yang ditunggunya belum juga datang. Membuat Tania dengan baju terbaiknya,dress terusan warna cokelat muda, berkali-kali menghela nafas panjang. Berharap laki-laki itu tidak lupa akan janji bertemu mereka malam ini. Tania memandang sisi kanan jalan,berharap didapatinya laki-laki itu dengan kemeja putih kotak-kotak dan celana jeans favoritnya berjalan tergesa. Tapi dia tidak juga tampak,yang terlihat hanya orang-orang yang lalu lalang sekitar pasar malam. Satu dua membawa harum manis dan jagung bakar,juga seplastik teh manis dingin di tangan kanan.
Kalau sampai dalam lima menit dia belum datang juga,aku akan minta arum manis lima buah,pikir Tania. Tapi Tania menggeleng kemudian,terlalu kekanakan pikirnya lagi. Tania kembali menghela nafas,kakinya memainkan batu-batu kecil di sekitar tempatnya berdiri. Sebentar tenggelam dalam ingatannya selama tiga tahun terakhir. Tiga tahun yang cukup panjang,juga tiga tahun yang mungkin akan benar-benar menjadi ‘hanya tiga tahun lalu’ mulai malam ini. Tania menggigit bibir bawahnya,ada rasa aneh di dadanya,terasa perih seperti tertusuk jarum atau benda berujung runcing lainnya. Air matanya sudah nyaris tumpah saat Tania mendengar suara yang begitu dikenalnya menyapa dirinya.
“Tania,maaf aku terlambat. Kamu sudah lama ya?”
Tania mendongak,”Nggak kok,aku juga baru sampai.”
Tania tersenyum,dengan cepat mengusap air matanya sebelum laki-laki itu melihat dan bertanya macam-macam.
“Masuk,yuk.”kata Tania.
Tania menggapai tangan laki-laki itu,menggengggam dan menggandengnya erat menuntunnya ke arah pasar malam. Namun perlahan tangan lelaki itu melonggar,melepaskan genggaman Tania dari tangannya. Tania diam,memelankan langkahnya dan membiarkan laki-laki berkemeja biru muda itu berjalan di depan.
***
Tuhan,tolong jangan persulit kami malam ini,gumam Tania.
Laki-laki berwajah lembut itu bernama Dimas. Lelaki yang begitu berarti untuk Tania,terutama tiga tahun terakhir ini. Tiga tahun yang Tania isi dengan segala sesuatu tentang mencintai dan dicintai oleh Dimas. Tiga tahun yang cukup untuk Tania sekedar tahu lelaki berambut cepak itu suka masakan Padang, suka warna hitam dan biru, juga suka tidur dengan kaos oblong warna merah pudar yang dimilikinya sejak SMA. Tania tahu semua itu,lebih dari siapapun.
“Tania,ayo.”panggil Dimas.
 “Iyaa,kak.”
Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sibuk memilih akan mencoba masuk rumah setan atau naik kora-kora. Rumah setan di sisi kanan,hanya bangunan sederhana dari papan yang disatukan membentuk rumah besar,semuanya dicat hitam,kecuali bagian atas pintu masuk rumah bertuliskan RUMAH SETAN dengan huruf berantakan warna merah menyala,disampingnya gambar seorang perempuan dengan wajah tidak jelas berambut hitam panjang dan berpakaian serba putih sedang tersenyum lebar. Sedangkan kora-kora ada di sisi kirinya,wahana berbentuk kapal besar yang dapat berayun ke kanan dan ke kiri ini muat untuk sekitar 30 orang, badan kapal bercat warna-warni dengan satu bendera segitiga bergambar tengkorak putih berlatar hitam dipasang di tiang tertinggi kapal.
“Kamu milih wahana yang mana dulu,Tania?”Tanya Dimas.
“Kora-kora aja deh,kak.”jawab Tania cepat. Dari tadi sudah memandang ngeri bangunan hitam pekat di depan mereka.
Dimas mengucak rambut Tania sambil tersenyum simpul. Seyum yang selalu mampu membuat hati Tania buncah bahagia, ”Sudah kuduga. Ayo deh kalau gitu.”
Tania berseru girang sambil setengah berlari menyusul Dimas yang sudah berjalan menuju tempat tiket kora-kora. Dan mengampit lengan kiri Dimas erat-erat.
***
Wajah Tania masih merah. Terlalu banyak berteriak saat naik kora-kora. Jantungnya masih belum berdegup secara normal. Nafasnya tersengal,diliriknya Dimas, masih dalam keadaan biasa saja. Tania bahkan tidak mendengar Dimas berteriak tadi,hanya mendengar tawa Dimas yang melihat Tania nyaris mati ketakuatan dilempar ke depan belakang oleh kapal kora-kora. Dalam hati Tania berjanji tidak akan pernah naik kapal terkutuk itu lagi. Tidak akan pernah. Tapi Tania bersyukur,melihat,mendengar dan merasakan Dimas tertawa didekatnya terasa begitu menyenangkan.
“Kau baik aja kan,Tania?”Tanya Dimas pelan.
Tania mengangguk. Tersenyum lebar,”Ayo naik bianglala,kak.”
Dimas menyentuh pundak Tania,sentuhan lembut dari tangan lebar Dimas selalu membuat jantung Tania berdesir pelan. Bahkan setelah tiga tahun kebersamaan mereka,hal itu masih tidak berubah.. Dimas terdiam cukup lama,dia menatap Tania dalam-dalam. Dimas terlihat hendak mengatakan sesuatu,tapi buru-buru diurungkan.
Dia hanya mengangguk pelan.
“Kau antri dulu. Nanti aku menyusul.”
“Iya.”kata Tania sambil tersenyum. Lalu berbalik,dengan setengah berlari menuju loket bianglala dan Tania segera ambil posisi antrian selanjutnya. Tidak lama Dimas kembali,kali ini dengan membawa sebungkus harum manis di kanan kananya. 
“Kamu masih suka harum manis kan?”katanya sambil mengulurkan harum manis merah muda kepada Tania.
Tania menerimanya,”Terima kasih. Ternyata…kamu masih ingat.”
***
Tania menatap langit malam lekat-lekat. Bintang hanya sedikit yang terlihat. Tapi tetap saja langit malam ini terasa begitu indah bagi Tania. Karena ada Dimas.
“Tania aku ingin bicara sesuatu…”
“Kalau tentang rencanamu yang sebulan lagi ini,tolong jangan.”jawab Tania pelan sambil tetap menatap luar jendela. Bianglala yang mereka naiki perlahan berputar.
Dimas mendesah,meraih tangan Tania dan menggenggamnya erat,”aku harus jelaskan.”
Tania diam. Disembunyikannya air mata yang nyaris tumpah untuk sekian kalinya malam ini. Pura-pura tidak melihat Dimas yang menatapnya tajam sejak tadi.
“Tania…”
“Aku nggak mau dengar kak!”
“Kau harus dengar,Tania!”
            Dimas menyentuh wajah Tania dengan kedua tangannya. Menatap mata Tania yang mulai basah. Tania bergetar hebat. Tangannya dingin dan lidahnya kelu seketika.
“Bulan depan,tanggal 15. Aku akan senang kalau kau bisa datang…”
Tania menggeleng,menunduk dalam,”aku nggak akan datang. Aku takut nggak bisa mengendalikan diriku untuk nggak merusak dandanan Kak Mira. Atau merusak dekorasi kalian,menjambak kondenya dan menumpahkan seliter jus jeruk ke gaunnya.”
Tania tersenyum. Senyum yang dipaksakan.
“Tania,kumohon.”kata Dimas dengan tidak sabar, “Maafkan aku.”
Dimas melepaskan tangannya dari Tania. Mata cokelat gelapnya masih menatap Tania,kali ini dengan pandangan yang tak biasa.
“Aku tahu,ini semua melukaimu. Tapi kumohon kau untuk mengerti. Aku juga terluka. Jarak sepuluh tahun di antara kita tidak mungkin diabaikan. Kau tahu,orang tuaku sudah rindu menimang cucu pertama mereka. Mereka sudah terlalu tua,aku hanya ingin membuat mereka bahagia dengan secepatnya menikah dengan putri kerabat mereka. Dengan Mira.”
Tania diam,bibirnya bergetar. Airmatanya tumpah.
“Dan kau masih 18 tahun,Tania. Jalanmu masih panjang untuk sekedar urusan menikah. Kau masih harus kuliah dan bekerja. Apa aku harus menunggumu? Apa keluargaku mampu? Bagaimana dengan keluargamu?”
Dimas menghela nafas panjang. Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca.
“Aku hanya ingin kau mengerti Tania,ini sulit bagiku. Dan ini juga tidak adil untuk Mira.”
Tania merasa dadanya sesak. Nama itu menyakitinya,lebih dari yang Dimas bisa bayangkan. Lampu-lampu dan musik pasar malam masih terdengar samar-samar,setengah mendengar setengah tidak Tania tenggelam dalam air mata. Menatap lurus ke jendela di sampingnya,pasar malam belum kehilangan ramainya. Orang-orang masih berombongan datang,melihat-lihat baju atau kerudung warna-warni pajangan,dan beberapa keluarga kecil sibuk memilah-milah mainan kapal dan kereta untuk anak kesayangan.
Mereka sejak lima menit lalu hanya berdiam diri. Menatap jendela dan membiarkan fikiran melayang entah kemana. Dimas mengusap wajahnya,mendapati Tania masih menangis di sampingnya. Menangis tanpa suara. Apa yang harus dikatakan?
“Sebentar lagi kita turun.”
Dan benar,tidak lama bianglala mereka berhenti berputar. Saat Dimas bersiap turun,handphonenya bergetar. My Love is calling. Tania menangkap dari ujung matanya. My Love,nama kontak yang dulu diisi dengan nomor ponselnya,sekarang digantikan oleh nomor orang lain.
“Angkatlah,kak. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama. Semua perempuan tidak suka saat menunggu teleponnya diangkat,apalagi oleh calon suaminya.”kata Tania. Sambil tersenyum.
Dimas menatap Tania,lelaki berwajah lembut itu tersenyum. Perlahan mengangguk pelan.
“Terima kasih,Tania.”
Tidak ada lagi senyum yang dipaksakan dari bibir Tania. Dia berusaha mengerti. Mengerti bagaimana semua hal tidak harus berjalan sesuai kehendak manusia. Selalu ada tangan yang di atas yang mengatur segala sesuatunya. Dan lagi benar kata Dimas, jika diteruskan akan sangat tidak adil untuk Kak Mira. Dan Tania sedang belajar untuk mengerti tentang menjadi dewasa dengan cara ikhlas walau dengan cara yang tidak mudah dan menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown