Kamis, 22 Desember 2011

Musium Kretek

Semester tiga ini benar-benar sesuatu deh. Tugasnyaa banyaaaaaaaaaak banget. Blog saya jadi kurang terurus kan ya. Dua minggu yang lalu saya dan teman-teman juga observasi Bimbingan Konseling ke sekolah. Observasi pertama saya, dan ternyata beneran mengerepotin ya. Mana dosennya juga ngga pengertian, waktu sekolah-sekolah sibuk ngurus rapotan malah disuruh observasi. Ya susahlah dapet ijinnya. Tapi, Thanks God, semua dimudahin karena Wega punya tante guru di sana. Tantenya Wega baiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik banget, sampe apa-apa diurusin deh :* Terus macam mana pula foto-foto saya yang lagi observasi ilang semua, jadi ngga bisa pamer :P #digampar

Eh, ngomong-ngomong soal pamer, saya mau pamer sekalian ah, tapi bukan foto observasi, tapi dokumentasi waktu jalam-jalan ke musium kretek. Juga dua minggu kemarin deh kayaknya. Musium kretek (rokok) itu adalah musium yang mamerin sejarah rokok di dunia perokokan di Indonesia (halah!) secara Kudus kan dijuluki kota kretek atau kota rokok. Ajaibnya saya yang hampir duapuluhtahun tinggal di Kudus barus pertama kalinya itu dateng kesana. Hahaha.

Kumpulan bungkus rokok dari masa ke masa




Diorama pembuatan rokok tradisional :)

Dengan rumah adat kudus yang ada di kompleks musimnya
So, yuk ke musium kretek, itung-itung nambah wawasan lho! ;)

Senin, 12 Desember 2011

Hafalan Shalat Delisa


Ada yang pernah baca novelnya sebelumnya? Novel yang ditulis dengan sangat sangat sangat indah sekali oleh Tere Liye. Novel yang pertama saya baca ketika duduk di bangku SMP dan masih membekas sampai sekarang. Novel yang sukses bikin mata saya bengkak kemerahan setelah bacanya. Novel yang saya ingin buang sangking saya irinya pengen nulis novel yang kuat dan indah seperti itu. Dan novel yang diadaptasi menjadi film layar lebar 22 Desember tahun ini. Ya, film ini.

Saya ngga pernah se-excited ini soal film-film Indonesia yang diangkat dari novel sebelumnya. Bahkan Laskar Pelangi pun hanya numpang lewat di pikiran saya. Tapi ini beda sekali buat saya. Mungkin ada baiknya kalau baca novelnya dulu deh, bukannya apa-apa, cuma biar dapet feel yang bagus aja. Ini tentang Delisa,gadis cilik yang berjuang di tengah musibah tsunami Aceh. Diperankan oleh Nirina Zubir, Reza Rahadian, Chantiq Schagerl, Al Fathir Muchtar, Mike Lewis dan Loide Christina Teixeir.

Dan demi apapun saya pengen nonton film itu langsung di bioskop. Musa juga udah janji mau ngajakin (asikasik),so I suggest to bring at least 2 boxes or more tissue for it :P

And now, I'll give u some pict of it :)





Rabu, 07 Desember 2011

(masih) Tentang kamu



Ada satu bagian diriku yang menginginkanmu untuk menahanku ketika aku tiba-tiba berfikir untuk pergi. Ya, kamu. Itu cukup dengan remas tanganku lalu menatapku memohon untuk tetap tinggal. Setidaknya biarkan aku merasa aku ada sedikit berartinya untukmu. Untuk duniamu.

Setidaknya biarkan aku merasa menjadi hijau di antara tujuh warna pelangi hidupmu. Hijau yang bahkan lebih sering tertutup kalah dengan kuning dan birumu. Seperti itulah. Kalaupun begitu aku tetap bertahan kan? Bahkan ketika namaku tidak juga kutemukan di deretan rencana kehidupanmu. Ketika kamu sibuk menata setapak yang akan kau ambil untuk tahun-tahun kedewasaanmu.

Aku tidak berharap banyak. Tidak memaksamu untuk jadi laki-laki yang membawakanku sebuncah bunga matahari dan krisan putih saat rintik di depan teman-temanku, tidak pula memaksamu menjadi laki-laki yang mengantarkan makanan atau obat saat aku tidak enak badan.

Aku hanya ingin kamu tidak sekedar mengucap 'istirahatlah' ketika aku bilang terlalu lelah, aku hanya ingin kamu sekedar meluangkan waktu untuk memuji dan berkata 'kamu hebat' daripada memintaku beristirahat,sendirian.

Itu terlalu sulit untukmu ya?

Selasa, 06 Desember 2011

My 1st Book

LELAKI BERAROMA AYAH
Penerbit: Hasfa Publisher
Terbit: November 2011
ISBN 978-602-98187-5-8
... 220 halaman. Rp 60rb.

Endorsment:
Kepelbagaian tema cerita tentang ayah pada buku ini benar-benar memenuhi citarasa sebuah antologi cerpen yang inspiratif, membaca kisahnyamembuat saya ingin memeluk Abah.
-Dang Aji ( Cerpenis, Creator UNSA )

Penuturan para penulis, menunjukkan tidak ada Ayah yang sempurna, namun seorang Ayah akan mencintai kita dengan sempurna.
-Dhony Firmansyah ( Penulis, BioMotivator )

Buku ini akan mengajak kita berpikir sekali lagi, bahwa bagaimanapun Ayah, ia tetaplah berarti dalam kesuksesan hidup kita.
-Sari Yulianti ( Penulis buku “Surga di Telapak Kaki Ayah” )

Mencintai bapak bagi saya seperti merangkai kata dalam sunyi. Kata cinta itu tak pernah berhasil saya ungkapkan pada bapak. Buku ini, mewakili kata-kata itu. Untukmu para bapak, para penulis buku ini merangkai kata cinta mereka.
-Nurul Asmayani (Penulis yang menetap di Jepang)

Untuk pembelian, silakan sms 081914032201 atau inbox fb Hasfa Publisher
Tulis nama/alamat/kodepos/jumlah/judul buku yang dipesan.

Untuk pre order s/d 20 November 2011, diskon 10%.

Sabtu, 03 Desember 2011

Perempuan itu


Perempuan memang seperti itu, sebisanya akan terus bertahan meski hatinya terluka, tercabik, terlara. Perempuan memang seperti itu, sebisanya berkata tidak apa-apa, meski hatinya tinggal serupa serpihan kecil dafodil yang diterbangkan angin utara. Perempuan memang seperti itu, selalu percaya pada hal-hal absurd dan kadang hanya dialah satu-satunya yang percaya. Tapi dia akan tetap percaya, bahkan sampai dia kelelahan akan kenyataan. Perempuan akan selalu seperti itu, masih akan menyedan sendirian, pura-pura bahagia sendirian, menata hati sendirian. Perempuan akan selalu memaafkan. Dan mencintai dengan kadar yang sama setiap setelah terluka. Mungkin dia hanya perlu sekali dua menghela nafas untuk kembali tersenyum ceria (atau pura-pura ceria).
Meski begitu,perempuan terlalu hebat untuk sekedar kau gores hatinya.

Kamis, 01 Desember 2011

Make my life LIVE!


1. Mbolang ke Bandung-Jogja-Solo.
2. Nyoba mie goreng merconnya Bang Udin sampai nangis-nangis.
3. Backpacking ke Europe dan Thailand.
4. Belajar berenang di Gili Trawangan.
5. Ujan-ujanan dan teriak sekenceng-kencengnya.
6. Nelpon kakak tingkat 'si itu tuh', bilang kalau dia kereeen banget. Lalu nutup telpon dan ganti nomer.
7. Mengamati telur kura-kura yang menetas lalu mbantuin biar lancar ke lautnya.
8. Nyamperin tere liye dan minta tanda tangan langsung.
9. Ngadopsi anak orang utan.
10. Bikin rumah pohon dengan bantal-buku-makanan yang banyak di sana.
11. Makan pia 99 saat hanami di Jepang.
12. Nempelin daun maple kering di dinding kamar.
13. Lihat Ka'bah.
14. Ngelus singa jantan.
15. Foto di pabrik cokelat Swiss.
16. Bikin rumah singgah dan ngajarin baca 'determine' yang benar.
17. Bikin novel. Atas nama pribadi, ngga keroyokan.
18. Jadi WO.
19. Beli pump shoes
20. Desain baju sendiri.
21. Njahit baju sendiri.
22. Baca komik deketif conan dari jilid pertama-sekarang.
23. Nulis cerpen anak-anak.
24. Bikin posyandu.
25. Ketemu temen-temen blogger dan tumblr.
26. Make my list TRUE!

Bahagia?


Dihadapkan pertanyaan sederhana sehari kemarin. Di secarik kertas bekas coret-coret Phonetic yang dengan sadis saya tarik sekenanya saja dari tas. Pertanyaan sederhana oleh dosen Poetry saya. Apa harapanmu? Cita-citamu? Itu pertanyaan level SD atau bahkan TK kan. Saya pun sudah mulai menulis jawabannya ketika dosen saya tersebut menambahkan '...yang kamu akan rela dan ikhlas mati setelah mendapatnya. Mendapatkan cita-citamu itu.' Glek. Rela mati?

Di situlah saya terdiam. Apa ya?
Keinginan yang membuat saya rela mati setelah mendapatkannya.
Menjadi penulis? Menerbitkan buku? Saya sudah melakukannya (meski sebuah antologi dengan beberapa penulis lain) dan saya tidak belum rela mati saat ini.

Menikah? Punya anak? Saya bahkan ingin membesarkan anak-anak saya dengan cara saya sendiri suatu nanti. Melihat mereka dewasa dan menikah dan punya anak.

Membahagiakan kedua matahari saya? Saya tidak akan pernah puas untuk itu. Saya tidak akan pernah merasa cukup sehingga siap untuk dipanggil setelah saya melakukannya. Tidak.

Definisi bahagia saya ternyata terlalu jauh. Bahkan, jujur saja saya belum mengerti bahagia itu apa. Bahagia yang sampai saya rela mati setelah mendapatkannya.
Saya bahagia mengulum permen kapas, tapi saya tidak rela mati setelah saya mengulum permen kapas itu meski banyak.

Jadi apa jawabannya?


Saya masih mengosongi tempat untuk menuliskan jawabannya di kertas coret-coret itu sampai sekarang.

Desember



Sebenarnya tidak ada yang berubah, semua masih sama. Tuhan masih menakar waktu dengan 24 sehari. Hanya kadang aku merasa itu terlalu cepat atau terlalu lambat. Tapi waktu bahkan punya caranya sendiri untuk menyetia dengan caranya, dengan tetap berjalan tanpa lelah mendetik lagi dan lagi.
Dan dia akan seenaknya saja melaju tanpa beri kita kesempatan untuk bilang 'sebentar...sebentar saja'. Agak kejam ya? Tapi begitulah dia.

Selamat datang Desember,
bisakah semesta meminta waktu untuk berjalan tidak terlalu cepat?
Yellow Crown