Kamis, 01 Desember 2011

Bahagia?


Dihadapkan pertanyaan sederhana sehari kemarin. Di secarik kertas bekas coret-coret Phonetic yang dengan sadis saya tarik sekenanya saja dari tas. Pertanyaan sederhana oleh dosen Poetry saya. Apa harapanmu? Cita-citamu? Itu pertanyaan level SD atau bahkan TK kan. Saya pun sudah mulai menulis jawabannya ketika dosen saya tersebut menambahkan '...yang kamu akan rela dan ikhlas mati setelah mendapatnya. Mendapatkan cita-citamu itu.' Glek. Rela mati?

Di situlah saya terdiam. Apa ya?
Keinginan yang membuat saya rela mati setelah mendapatkannya.
Menjadi penulis? Menerbitkan buku? Saya sudah melakukannya (meski sebuah antologi dengan beberapa penulis lain) dan saya tidak belum rela mati saat ini.

Menikah? Punya anak? Saya bahkan ingin membesarkan anak-anak saya dengan cara saya sendiri suatu nanti. Melihat mereka dewasa dan menikah dan punya anak.

Membahagiakan kedua matahari saya? Saya tidak akan pernah puas untuk itu. Saya tidak akan pernah merasa cukup sehingga siap untuk dipanggil setelah saya melakukannya. Tidak.

Definisi bahagia saya ternyata terlalu jauh. Bahkan, jujur saja saya belum mengerti bahagia itu apa. Bahagia yang sampai saya rela mati setelah mendapatkannya.
Saya bahagia mengulum permen kapas, tapi saya tidak rela mati setelah saya mengulum permen kapas itu meski banyak.

Jadi apa jawabannya?


Saya masih mengosongi tempat untuk menuliskan jawabannya di kertas coret-coret itu sampai sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown