Minggu, 29 April 2012

The Chosen Way

Saya selalu kagum sama orang yang bisa memilih jalannya sendiri. Jalan yang hampir selalu berbeda dengan orang lain. The own way!
Kampus saya, fakultas bahasa dan seni. Tidak susah mencari orang-orang yang mengaku 'berseni' memakai kaos oblong, celana cobek sana-sini, rambut awut-awutan dan sebagainya. Banyak. Juga banyak mas-mas dengan pedenya melenggang dengan lembutnya, dengan melambainya. Banyak.
Dan mereka mengatasnamakan seni atas itu.

Saya tidak akan bicara soal penampilan dan status mahasiswa kesenian. Itu bukan hak saya. Dan saya bukan orang yang sok ngga malas membahas hal seperti yang di atas.

Oke, balik soal kagum pada oarang yang bebas memilih jalannya sendiri. Pertama kali saya datang di kampus ini, saya (atau kami mahasiswa baru) disambut meriah. Malam pentas seni. Dimana kami dan kakak-kakak tingkat menunjukkan diri di panggung besar. Ada nyanyian, drama, band dan tarian. Saya selalu sukaaaaaaaa sekali melihat tarian tradisional. Terlepas dari sok concern pada budaya dan lain-lain. Alasan utamanya adalah penarinya terlihat mewah, cantik dan sempurna. Dengan baju bling-bling keemasan dan melati di sisi kiri kanan. Dan saya kembali terkesan malam itu.

Saya dengan muka melongo memperhatikan tariannya Jawa malam itu dari balik panggung (karena habis itu kelompok saya yang gantian tampil) keren. Beberapa orang menari tarian Jawa dengan sangat sangat sangat amazing. Mereka pakai baju ala Srikandi hitam dan emas-emasan, lengkap mahkotanya juga. Dengan make up dan rambut panjang. Cantik.
Saya masih memperhatikan sampai akhir tarian dan orang-orang itu keluar dari panggung. Ke belakang. Satu hal yang akhirnya saya sadari mereka semua: LAKI-LAKI. Dan NORMAL(dalam kontkes gesture dll). Nyaris tidak ada yang melambai dari mereka semua, ada satu sih yang memang tingkahnya agak kemayu :P

Yang pertama saya pikirkan adalah mereka semua adalah dari jurusan seni tari. SENI TARI. Kalau perempuan mungkin lebih masuk akal atau tidak aneh di pikiran saya, tapi kalau laki-laki? Bukannya gimana-gimana tapi seni tari sering dianggap sebelah mata oleh orang-orang. Pekerjaan perempuan. Mau jadi apa? Penari?!
Bagaimana kalau ada laki-laki yang mungkin diharapkan masuk fakultas teknik atau apalah yang lebih bergensi dan lebih 'laki' tapi lebih memilih tari.

Saya selalu kagum sama orang-orang yang seperti itu. Yang tahu maunya apa dan berani untuk memperjuangkannya. Tidak banyak orang yang seberani itu lho. Dan itu samasekali tidak pernah mudah apalagi dengan gempuran kata-kata dari orang sekitar. Tapi itu yang bikin lebih keren lagi kan ya?!

Saya masih kagum sama mereka dan jalan mereka ambil. Dan bagaimana mereka menikmati proses pertanggung-jawaban atas jalan itu. Mungkin akan tiba saatnya saya yang berada di posisi itu kelak. Tidak, tidak sekarang, jujur saja. Suatu saat pasti. Mungkin.

Salam lenggang kangkung.

Percaya, ini nyata

Suatu hari nanti, kalian semua akan jatuh cinta tanpa dibuat-buat.
Tanpa perasaan posesif kekanak-kanakan atau rasa ingin pamer kasih sayang yang berlebihan.
Akan kalian temui seseorang yang membuat kalian jatuh hati tanpa alasan. 
Yang membuat kalian tidak takut pada jutaan omong kosong soal sakitnya patah hati.
Yang membuat kalian menjadi diri kalian sendiri.
Tidak dengan ucapan manis atau perilaku yang berpura-pura.
Kalian akan jatuh cinta dengan seadanya, tapi juga dengan segalanya.

Kalian akan jatuh cinta dan berani mempertanggungjawabkannya.
Bukan dengan pujian palsu atau rasa kagum sesaat.
Tapi dengan tatap mata dan rasa saling percaya.
Suatu waktu nanti akan datang seseorang yang datang dan membuat kalian jatuh cinta tanpa alasan,
Yang akan kalian jadikan prioritas,
Bukan sekedar kalian banggakan di media sosial tapi kalian bohongi di kehidupan nyata.
Suatu hari nanti, kalian akan bertemu seseorang yang akan mendengarkan cerita kalian di sisa hidupnya.
Yang akan membuat kalian paham benar apa itu arti kata sayang.
Yang membuat kalian tidak sabar untuk menghabiskan hari tua bersama, berdua, tanpa ragu, tanpa sempat terpikir untuk berpindah ke lain hati.

from here.

Sabtu, 28 April 2012

Pulang

**Aku tidak pernah benar-benar membencinya. Aku tahu dia adalah pemilik ketiga nama yang harus kubahagikan agar aku masuk surga. Dan aku tidak pernah mengingkarinya barang sekalipun. Tapi semua yang sudah kulewati beberapa tahun terakhir memaksaku untuk bersikap lain.**

Tragis, Menggendong Jenasah Anak Dari RSCM Sampai Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulance

Oleh: Johnwilli | 18 June 2011 | 19:17 WIB


Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan Jakarta – Bogor pun geger minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong jenasah anak, khaerunisa (3 thn).

Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6) pukul 07.00.

Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp.6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans.

Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.

Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik.

Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.

Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama.

Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia, ujarnya

Jumat, 27 April 2012

Pathetic Love

Aku mengamati dan diam-diam mengumpulkan segala tentangnya jadi satu dalam setoples kenangan warna hijau muda-warna kesukaannya. Setoples yang akan kusimpan entah sampai kapan.

Untitled 3

Sekarang gini aja, apa aku harus iri kalau-kalau semua hal selalu bersudut padamu,tidak padaku. Setidaknya aku tidak memintamu macam-macam. Kau yang datang padaku, lewat pesan singkat itu. Dan aku tidak pernah sekalipun bertanya tentang 'bisakah kamu.' Aku tahu posisiku kok.Aku dan itu tidak pernah lacur padaku.

Masalahnya ini seperti roller coaster bagiku. Sekali naik, tidak mungkin bisa turun lagi. Satu-satunya jalan keluar adalah aku harus bersabar duduk di tempat ini, mengenakan sabuk pengaman ini, berpegangan dan menyiapkan sekotak penuh teriakan untukmu. Menunggu naik, turun, naik lagi. Di hembas, di ayun, dihempas lagi. Berkali-kali. Sampai nanti roller coasternya berhenti perlahan dan samasekali.

Ide gila adalah jika aku memaksa melepas pengaman dan membiarkan tubuhku benar-benar terlempar keluar. Bisa kau bayangkan? Hacur? Lebih dari itu mungkin ya.
Dan itu lebih dari disebut mati konyol untukku.

Dan benar kan, aku harus tetap berada di tempat ini. Duduk manis dan teriak-teriak kecil.
Sst..dan sedikit menangis :')
Tidak apa, aku kuat kok!

siang-siang

*meluk owlie*
*gigit bibir*
*lihat jendela*
*hujan*
*peluk owlie lebih erat*
*sms patronum,belum dibales*
*sms musa,belum dibales*
*lihat jendela*
*ujan*
*meluk owlie*
*jangan nangis,jangan nangis*
*meluk owlie*
*lihat jendela*
*nangis*

Rabu, 25 April 2012

Funtime in CCU class

Minggu kemarin, saat kelas Cross Cultural Understanding, Bu Indra memberi tugas pada mahasiswanya,kami,untuk mempresentasikan hasil kebudayaan dari negara lain. Namanya juga pelajaran antar kebudayaan kan ya. Satu rombel dibagi jadi dua kelompok, masing-masing kelompok akan mempresentasikan satu hasil kebudayaan tertentu,boleh makanan, tarian, permainan atau pakaian. Kelompok saya memilih mempresentasikan teh tarik dari Malaysia. Sementara kelompok yang lain membawakan permainan tepuk tangan tradisional dari Amerikan (Mary Mack apalah namanya).

Sebenarnya teh tarik ini idenya dapat setelah gonta-ganti ide, mulai dari spageti (yang terlalu simple kalo instan, terlalu ribet kalo ngga instan), upacara minum teh (yang ternyata ribetnya minta ampun), summo (kasian nanti yang eksis cuma dua orang :P), HOT DOG (aduuuuuh mahal) dan akhirnya nemu ini,teh tarik. Murah meriah. Secara satu rombel harus kebagian semua, per anak satu gelas. Diicipin gitu :3



 Teh tarik terdiri dari teh dan susu yang ditarik. Maksudnya dipindah (dituangkan) dari gelas satu ke gelas yang lain dengan jarak yang lumayan tinggi. Saya ngga suka teh campur susu. Dari dulu. Rasanya aneh. Jadi saya hanya manut-manut unyu saja. Menyerahkan semua pada ahlinya. Oji ternyata pinter 'narik' juga lho, sayang ngga ada fotonya. Soal narik menarik bukan hal yang gampang lho, susaaaaaah banget, apalagi dengan ukuran gelas standar yang kecil gitu. Bisa-bisa tumpah kemana-mana atau nyiprat ke baju dan bau nyisain bau amis khas susu. Uugh.

 


Tapi so far, Alhamdulillah semua lancar. Jujur, kelompoknya Citra dan kawan-kawan yang membuat kelas ini jadi meriah. Bu Indra gave applause for them. Karena membawakan sesuatu yang baru, yang Bu Indra saja baru tahu ada permainan tepuk tangan Mary Mack yang sangat sangat sangat kental dengan nilai history. We really enjoyed it. Saat semuanya memainkan permainan itu secara berpasangan. Dan tiap set permainan tepukannya akan semakin cepat semakin cepat. Seru!
Saya yang berpasangan sama Ajeng sampai salah-salah terus awalnya tapi setelah diulang beberapa kali akhirnya bisa lancar (tapi tetep saya yang sering salah tepukannya, jadi mengacaukan ritmenya Ajeng juga, maafkan T,T)



Senang sekali lho kelas CCU kali ini,jadi nambah erat hubungan antar mahasiswanya. Yuk lagi yuk??
:3

Selasa, 24 April 2012

Untitled 2

Bahkan di sudut komik yang lucupun ada tragis yang harus digambarkan loh, seperti paman Gober yang harus mati,(atau meninggal?!)
Iya kan?
Dan kita tidak bisa bilang tidak atau menolak. Hidup tidak selamanya tentang senyum-semangat-hahaha saja. Ada kok waktu yang sebenaranya tidak banyak tapi berarti kita harus menghela nafas sebentar untuk berfikir--lalu apa?
Hidup tidak pernah sesempurna kelihatannya.
Model cantik artis terkenal bisa jatuh di panggung.
Tapi yang penting bukan bagaimana dia bisa jatuh, melainkan bagaimana setelah dia jatuh.
Tersenyum, pura-pura tidak tahu atau menangis sembunyi muka

Just like life is never flat,right?!

Rumah

Dua kali kemarin, saat pulang ke kudus tidak sengaja saya naik angkot yang isinya adalah ibu-ibu yang rumahnya sekitaran unnes sana, ibu-ibu (atau yang lebih pantas dipanggil mbah-mbah itu) dengan membawa hasil panen yang cukup banyak. Ada pisang, daun singkong, ketela dan masih banyak yang lainya. Unnes, bukannya mau merendahkan, wilayahnya memang agak sedikit di ‘atas’ dan jauh dari kota (baca:desa). Banyak penduduk asli sana masih bertanam di kebun atau di sawah. Hasil kebun itu nanti dijual ke pasar pagi-pagi sekali dengan naik angkot oren-hijau, angkot yang sama untuk mahasiswa turun untuk pulang ke kampung halaman. 

Seperti saya sabtu pagi itu. Harus rela sedikit membagi tempat dengan ibu-ibu dan barang bawaannya yang tidak sedikit. Tapi entah kenapa, saya merasa nyaman sekali. Ibu-ibu dan segala bawaannya itu mengingatkan saya pada seseorang. Mbah saya. Almarhumah. 

Saya pada dasarnya memang sudah akrab dengan kegiatan tanam menanam-panen-menjual hasil panen dengan keranjang bambu seperti-saya akrab dengan itu semua. Karena mbah saya. Keluarga besar saya yang sederhana di Jepara. 

Di sepanjang jalan, ibu-ibu itu saling bercerita. Bukan tentang blackberry atau diskon Tupperware beli dua dapat tiga, tapi tentang tetangganya, saudaranya, keluarganya atau bahkan sapi-sapinya yang beranak kembar. Tentang ibu yang meninggal, nikahan saudara yang harus diingat harus dibawakan gula seberapa dan cucu yang mulai berjalan. Mendengarkan dengan seksama kata per kata. Saya menikmatinya. Kehidupan yang sederhana. Damai. Tidak perlu susah-susah memkirkan partai ini masuk pemilu-menteri ditahan karena suap-artis dangdut yang mau dinikahkan sama ustadz.

Saya kangen sama mbah, dengan kesederhanaannya. Dengan tangannya yang lembut padahal melakukan apa saja bahkan ke kebun untuk ambil rebung sendirian. Dulu,sebelum sakit. Yang dibicarakan juga hal yang itu-itu saja. Tapi selalu ada yang berbeda. Si ini menikahkan anaknya, dapat orang sana, harus membawa rokok atau gula seberapa, juga tentang sawah yang airnya tidak sebanyak biasanya atau pohon mangga yang lagi malas berbuah. Di antara obrolan-obrolan itulah saya merasa nyaman. Karena itulah rumah saya yang sebenarnya. Rumah yang jauh dari mana-mana. Rumah yang letaknya jauuuuuh di pedalaman Jepara. Yang listrik saja baru ada beberapa tahun belakangan. Yang di depannya ada bunga bangkai langka yang mekar belasan atau puluhan tahun sekali saja. Yang dibekalangnya ada sungai untuk mandi atau mencuci. Yang sinyal adalah barang langka untuk M3.

Satu hal yang saya ingin, semoga rumah itu tidak berubah. Biarlah jalan-jalan itu susah dilalui agar rumah itu tetap seadaanya. Egois ya saya? Memang iya. Karena bagi saya, rumah saya itu adalah segalanya. Saya ngga akan rela jika sesuatu terjadi pada rumah saya itu. Haha. Benar-benar egois ya saya.
betewe, kapan ke jepara lagi ya :3

Rabu, 18 April 2012

Flanel Cake



Sebenernya ini adalah toples yang dihias dengan kain flanel, yang kelihatan di foto adalah tampak atasnya. 
Looks yummy, right?
:3

Selasa, 17 April 2012

happy birthday mita!

Selamat ulang tahun Pramitha Apriliyana, teman, sabahat, supir, mbak, adek, dan segala-galanya buat saya. Terima kasih untuk hubungan belasan tahun sejak SD dengan saya. Terima kasih untuk tetap bertahan dengan segala sikap buruk saya. Terima kasih untuk selalu menjadi orang yang tidak meremehkan cita-cita saya, mimpi-mimpi saya. Terima kasih untuk bantuan, sms, telinga, dan waktu untuk antar saya kemana saja.
Terima kasih untuk selalu mengerti tanpa pernah berniat untuk pergi. Terima kasih.








Tambah bersinar ya mit. Dilancarkan segala aspek kesuksesan dunia-akhiratnya. Tambah bersinar dengan perdar-pendar kebaikan yang diberikan Tuhan. Selamat dua puluh tahun, sudah tante-tante ya. Semoga tambah dewasa. Dan hubungan mesra ini langgeng sampe tua. :*

Senin, 16 April 2012

Curhatan 1

Lalu kamu mengancamku akan pergi lalu membiarkanku lalu semua bisa baik-baik saja?
Aku sudah berusaha kok, lalu kalau respon yang didapat ngga menyenangkan terus aku harus apa?
Nyoba sekali lagi?
Ini yang bodoh siapa?
Toh aku udah berusaha sekali lagi. Situ aja yang bikin semuanya sulit.

Hadiah giveaways pertama

Kemarin kemarin saya iseng ikutan giveaways yang diadakan buttondreams dan alhamdulillah saya menang! Hadiahnya dapet pouch lucu dari ilovecha, seneng deh, secara dari awal saya memang udah ngincer biar dapet pouchnya itu. Alhamdulillah kesampaian daaan, Jumat kemarin paketnya sampai ke rumah,pas banget saya pas pulang :D



Fida aja seneng banget sama pouchnya itu

Makasih ya untuk banyak pihak yang menyelenggarakan giveaways nya, ayo kapan-kapan lagi dan menangin saya lagi :P. Makasih juga buat Musa atas kerepotannya dan twiternya..hehe
Chayo crafter Indonesia :D

Kamis, 12 April 2012

My comfort zone



Sedang berusaha untuk bergerak dari lingakaran sebelah kiri. Bismillah :')

Selasa, 10 April 2012

untitled


Kata-kata itu masih menggantung di sana, sesekali tertiup angin ke kiri dan kanan.
Lalu apa?
dan akupun masih terlalu malas untuk sekedar menggapainya dan meletakkanya di dadaku sekarang,
Ku biarkan saja itu tetap pada tempatnya,
agar suatu saat kamu datang melihat kata-kata usang dan berjaring laba itu adalah pernah jadi milikmu yang tertinggalkan
yang kau berikan untukku untuk digantung di lelangit kamar,
dan kau akan ingat, atau pura-pura ingat
tentang langit dan mega jingga
cerita lama
masalahnya,kapan kau akan datang?

Senin, 09 April 2012

Kepergian sabtu kemarin

Mbah puteri meninggal. Kemarin sabtu. Beliau memang sudah lama sakit, tapi sejauh itu saya pikir semua akan baik-baik saja. Bapak diberitahu kalau mbah kritis Jumat siang, langsung meluncur ke Jepara setelahnya. Setelah menunggui sehari semalam paginya bapak pulang ke Kudus, niatnya untuk sekedar istirahat sebentar sebelum berangkat lagi ke Jepara. Tapi belum hilang capeknya, baru saja sampai rumah, bapak sudah ditelfon kalau mbah kritis (lagi) dan ngga lama bapak ditelepon kalau mbah sudah ngga ada.

Mbah sudah lama sakitnya. Stroke membuatnya cuma bisa tiduran dikamar untuk menggerakkan tangan saja kesulitan. Paman dan bibi yang merawatnya dirumah mereka. Makan, minum sampai buang air besar. Sebenarnya saya juga sangat sangat merasa kasian dengan keadaannya, tapi mau bagaimana lagi, keluarga sudah berusaha dengan membawa berobat kemana-mana, tapi hasilnya ngga ada. Dan memang Allah sudah punya rencana yang jauh lebih hebat, mbah puteri pergi menyusul mbah kakung yang meninggal 3 tahun yang lalu.

Ironisnya mbah puteri pasti seringkali merasa kesepian, ditinggal di kamar tiduran sendirian sedangkan yang lainnya sibuk bekerja dan melakukan aktivitasnya masing-masing :(. Termasuk saya dan keluarga. Keluarga kami yang memang jauh dari rumah Mbah, paling hanya berkesempatan beberapa kali dalam setahun untuk berkunjung. Lebaran, arisan keluarga dan beberapa acara keluarga seperti nikahan atau sunatan sodara, yang jumlahnya bisa dihitung beberapa kali saja. Membuat saya tidak mempunyai waktu yang berkualitas dengan mbah. Jangankan dengan mbah, dengan sodara-sodara yang lain yang disana saja tidak. Jangan tanya silsilah keluarga besar saya, saya tidak hafal. Yang wajahnya familiar saja saya sering lupa namanya siapa.

Dan sekarang mbah sudah ngga ada. Satu-satunya yang saya sesali bukan kepergiannya yang tak berpulang sabtu kemarin, tapi waktu saya yang panjang terbuang tanpa pernah mengenalnya dengan baik. Pengetahuan saya hanya sebatas mbah pandai sekali membuat tape ketan. Enaaaaak banget. Tidak ada yang bisa menandinginya. Bahkan Bu Dhe, anak perempuannya yang tertua saja belum bisa bikin tape ketan seenak itu. Manis, asemnya pas. Airnya tidak kurang tidak lebih. Mbah juga pandai bikin kopi sendiri. Kopi yang dipetik dan diproses sampai jadi secangkir pekat hitam terenak kata bapak.
#sudah kangen mbah lagi

Ya Allah, mudahkanlah jalannya, lapangkanlah kuburnya, terimalah amalnya, ampuni dosanya.
AAMIIN
:')

Rabu, 04 April 2012

Pelangi


Lupa ini foto kapan diambilnya. Yang pasti sudah lama. Semester 3? 2? Lupaaa >,<
Pelanginya kelihatan kan ya? Ceritanya saat itu antara sore menjelang magrib, jam 5an lah. Ujan gerimis rintik-rintik romantis. Tiba-tiba liat pelangi di belakang kosannya cuiy. Pelanginya sebenarnya ada dua lho. Kembaran yang satunya ada di belakang, tipis banget jadi ngga kelihatan pas difoto :(

Dan dengan mulut melongo kaya ngga pernah liat pelangi seumur hidup saya sama nian nungguin pelanginya sampai hilang.Berdua di samping kosan duduk 'ndeprok' kurang kerjaan. Dari lengkungan jelas setengah lingkaran sempurna lalu jadi hilang seperti hihapus pake penghapus sedikit demi sedikit sampai habis. Kira-kira hilangnya pas tepat adzan magrib. Subhanallah :')

Eh, Allah, ini sudah penghujan lagi lho, mau habis malah (apa emang seharusnya sudah habis?), mau dong dikasih pelangi lagi.. Ya? Ya?


Televisi

Mulai berfikir kalau mungkin suatu saat nanti, saat saya punya anak, saya akan memutuskan untuk tidak mempunyai televisi. Bukan apa-apa, saya cuma khawatir saja, sekarang ini banyaaaaak banget acara televisi yang isinya gitu-gitu aja. Membacot ngga penting yang akhir-akhirnya melecehkan orang lain. Mengata-ngatai orang lain. Menyebut orang lain dengan sebutan hewan atau semacamnya. Dan, itu dilakukan dengan rasa enteng tanpa merasa bersalah. Harus saya sebut apa itu?

Sedangkan pelakunya menjawab itu hanya untuk hiburan. Hiburan apa yang didapat dengan ucapan-ucapan 'hei, kamu pantat panci!' macam itu? Lalu apa yang kami,penonton,dapat? Anak-anak kecil kami memanggil temannya dengan sebutan-sebutan itu? Lalu tertawa. Lalu merasa bahagia? Masih belum lagi kalau ditambahi dengan pukulan atau dengan sengaja menyiram teman (yang berbuat kasar pada kita itu teman?!) dengan air atau memukulkan stereofom.

Lalu tertawa. Lagi.

Sayangnya untuk alasan apapun, saya tidak pernah suka dengan hal seperti itu, ditambah lagi acara-acara itu semakin mejamur saat ramadhan, saat sahur dan menjelang berbuka tepatnya. Dan kuantitas pelecehan dan mengata-ngatainya juga tidak berkurang, bertambah saja malah, Bukannya tambah pahala,bisa-bisa malah nambah dosa kan ya? Lha isinya njelek-njelekin orang aja kok. Terus, kami sebagai penonton harus bagaimana? Kalau ada orang yang bilang, orang harus pinter memilih, okelah, bisa diterima, tapi kalau di tivi isinya sama aja seperti semua. Apalagi yang harus dipilih dong? Alurnya memang ada permintaan ada penawaran, tapi tidak menutup kemungkinan ada penawaran ada semakin banyak permintaan kan?

Ada KPI sih, tapi apa, sekali dua kali ditegur nanti juga mulai lagi. Kasar lagi. Sudah kebiasaan sih ya. Susah diilangin. Mau jadi apa negara ini kalau orang-orangnya saja selalu disuguhi tayangan-tayangan kasar dan melecehkan. Katanya negara yang orangnya ramah-ramah dan baik-baik pula. Ya, rusuhnya demontrasi dan beberapa headline di koran-koran tentang kekerasan juge pembunuhan bisa jadi cerminan yang paling baik tentang moral kita.

Kalau sudah kaya gini, cukup bijak rasanya kalau saya memutuskan mungkin suatu saat nanti tivi tidak ada dirumah saya. Cukup internet kalau mau tahu tentang berita dan semacamnya. Toh, situs internet yang porno-porno bisa diblokir dengan mudahnya, pokoknya saya ngga rela kalau anak-anak saya kelak jadi anak yang kasar pada temannya, ucapannya, perilakunya, semuanya. Apalagi kalau kekasaran itu dari rumahnya sendiri. Dari televisi.



Selasa, 03 April 2012

warning

Saya paling tidak suka dengan orang yang seenak jidatnya komentar 'ih, dia jelek banget!' bahkan sama artis yang di tv sekalipun. Yang jelas-jelas saya ngga kenal artis itu, apalagi nge-fan sama artis itu. Atau yang bukan artis, istri atau suami artis misalnya. Seseorang dengan gampangnya bilang hal-hal semacam itu. Dengan frontal. Tanpa beban. Dengan sinis. Atau kadang dengan tertawa-tawa.

Memangnya kenapa kalau dia kurang cantik? Masalah buat elo? Dia aja ngga masalah! Terus kenapa kalau kulitnya ngga putih? Emang elo putih? Elo udah ngerasa sempurna gitu jadi bisa komentar kaya gitu?

Rasanya pengen nabok itu mulut. Saya yang ngga ada hubungannya aja ngerasa jengah. Nggak suka. Mungkin dia merasa dia sempurna mungkin ya, jadi dengan bebas menilai seseorang dengan mudah,teramat mudah. Dengan bilang jelek pada orang. Terus gimana perasaan orangnya kalau denger kata-kata itu? Terus gimana kalau dia di posisi orang itu? Yang dengan gampangnya dibilang 'ih,dia jelek banget!'
Tuhan nyiptain makhluknya itu dengan sempurna. Ngga ada barang gagal apalagi KaWeKaWe-an. Terus kalu ada orang yang mudahnya bilang 'ih, dia jelek banget!' berarti dia udah njelekin Tuhan dong ya. Udah nyalahin Tuhan. Masih ngga ngerti juga? Balik sono ke SD kelas 2.

Maaf kalau tulisan ini terlalu frontal. Bukannya saya sok suci atau bagaimana. Saya juga pernah kok melakukan itu, hanya saja saya selalu berusaha tidak mengulanginya. Saya juga jauuuuuuuuuuuh banget dari sempurna. Bukan maksud menggurui, hanya untuk pengingat saja, mungkin suatu saat saya yang gantian yang melakukan itu kan. Who's know?

Yuk, sama-sama instropeksi.
Mulut itu cerminan diri lho :3

Minggu, 01 April 2012

Ga jelas

Tampilan dashboardnya baru ya?
Tapi masih suka yang sebelumnya. Birubiru unyu gituu. Cara ngembaliinnya gimana kaaak??

Sudahlah, sementara gini dulu aja.

Baru selese ngerjain tugas nih, Subhanallah bangetlah. Baru beberapa minggu kuliah semester empat aja rasanya udah kuliah bertahuntahun T,T
Tugasnyaaaa....

Dua hari ini adalah hari yang berat buat saya. Seperti layangan yang harus rela dibawa kesana kemari sama angin yang ngga tanya dulu maunya saya kemana. Sesekali nyangkut di pohon sebelum nanti ada angin yang jauh lebih kenceng narik saya untuk turun dari pohon, untuk diterbangin lagi seenak jidatnya.

Capek banget. Sumpah.

Dan ini seperti bagian dari capek itu. Dan yang lebih nyebelin adalah saat kita tahu kita capek, badan udah ngeluh minta diperhatiin dikiit aja, efek jor-joran itu masih ada. Seperti tidur yang kebanyakan, rasanya juga masih ingin tidur tidur ngga bangun-bangun.

Postingan apa ini?
Pstingan ngedumel ngga jelas. Postingan yang agak sedikit ngga terima kenyataan kalo besok masih harus kuliah jam tujuh sampe sore.

Uda cukup? Iya.
Salam ngantuk tapi ngga bisa tidur :*
Yellow Crown