Minggu, 29 April 2012

The Chosen Way

Saya selalu kagum sama orang yang bisa memilih jalannya sendiri. Jalan yang hampir selalu berbeda dengan orang lain. The own way!
Kampus saya, fakultas bahasa dan seni. Tidak susah mencari orang-orang yang mengaku 'berseni' memakai kaos oblong, celana cobek sana-sini, rambut awut-awutan dan sebagainya. Banyak. Juga banyak mas-mas dengan pedenya melenggang dengan lembutnya, dengan melambainya. Banyak.
Dan mereka mengatasnamakan seni atas itu.

Saya tidak akan bicara soal penampilan dan status mahasiswa kesenian. Itu bukan hak saya. Dan saya bukan orang yang sok ngga malas membahas hal seperti yang di atas.

Oke, balik soal kagum pada oarang yang bebas memilih jalannya sendiri. Pertama kali saya datang di kampus ini, saya (atau kami mahasiswa baru) disambut meriah. Malam pentas seni. Dimana kami dan kakak-kakak tingkat menunjukkan diri di panggung besar. Ada nyanyian, drama, band dan tarian. Saya selalu sukaaaaaaaa sekali melihat tarian tradisional. Terlepas dari sok concern pada budaya dan lain-lain. Alasan utamanya adalah penarinya terlihat mewah, cantik dan sempurna. Dengan baju bling-bling keemasan dan melati di sisi kiri kanan. Dan saya kembali terkesan malam itu.

Saya dengan muka melongo memperhatikan tariannya Jawa malam itu dari balik panggung (karena habis itu kelompok saya yang gantian tampil) keren. Beberapa orang menari tarian Jawa dengan sangat sangat sangat amazing. Mereka pakai baju ala Srikandi hitam dan emas-emasan, lengkap mahkotanya juga. Dengan make up dan rambut panjang. Cantik.
Saya masih memperhatikan sampai akhir tarian dan orang-orang itu keluar dari panggung. Ke belakang. Satu hal yang akhirnya saya sadari mereka semua: LAKI-LAKI. Dan NORMAL(dalam kontkes gesture dll). Nyaris tidak ada yang melambai dari mereka semua, ada satu sih yang memang tingkahnya agak kemayu :P

Yang pertama saya pikirkan adalah mereka semua adalah dari jurusan seni tari. SENI TARI. Kalau perempuan mungkin lebih masuk akal atau tidak aneh di pikiran saya, tapi kalau laki-laki? Bukannya gimana-gimana tapi seni tari sering dianggap sebelah mata oleh orang-orang. Pekerjaan perempuan. Mau jadi apa? Penari?!
Bagaimana kalau ada laki-laki yang mungkin diharapkan masuk fakultas teknik atau apalah yang lebih bergensi dan lebih 'laki' tapi lebih memilih tari.

Saya selalu kagum sama orang-orang yang seperti itu. Yang tahu maunya apa dan berani untuk memperjuangkannya. Tidak banyak orang yang seberani itu lho. Dan itu samasekali tidak pernah mudah apalagi dengan gempuran kata-kata dari orang sekitar. Tapi itu yang bikin lebih keren lagi kan ya?!

Saya masih kagum sama mereka dan jalan mereka ambil. Dan bagaimana mereka menikmati proses pertanggung-jawaban atas jalan itu. Mungkin akan tiba saatnya saya yang berada di posisi itu kelak. Tidak, tidak sekarang, jujur saja. Suatu saat pasti. Mungkin.

Salam lenggang kangkung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown