Senin, 09 April 2012

Kepergian sabtu kemarin

Mbah puteri meninggal. Kemarin sabtu. Beliau memang sudah lama sakit, tapi sejauh itu saya pikir semua akan baik-baik saja. Bapak diberitahu kalau mbah kritis Jumat siang, langsung meluncur ke Jepara setelahnya. Setelah menunggui sehari semalam paginya bapak pulang ke Kudus, niatnya untuk sekedar istirahat sebentar sebelum berangkat lagi ke Jepara. Tapi belum hilang capeknya, baru saja sampai rumah, bapak sudah ditelfon kalau mbah kritis (lagi) dan ngga lama bapak ditelepon kalau mbah sudah ngga ada.

Mbah sudah lama sakitnya. Stroke membuatnya cuma bisa tiduran dikamar untuk menggerakkan tangan saja kesulitan. Paman dan bibi yang merawatnya dirumah mereka. Makan, minum sampai buang air besar. Sebenarnya saya juga sangat sangat merasa kasian dengan keadaannya, tapi mau bagaimana lagi, keluarga sudah berusaha dengan membawa berobat kemana-mana, tapi hasilnya ngga ada. Dan memang Allah sudah punya rencana yang jauh lebih hebat, mbah puteri pergi menyusul mbah kakung yang meninggal 3 tahun yang lalu.

Ironisnya mbah puteri pasti seringkali merasa kesepian, ditinggal di kamar tiduran sendirian sedangkan yang lainnya sibuk bekerja dan melakukan aktivitasnya masing-masing :(. Termasuk saya dan keluarga. Keluarga kami yang memang jauh dari rumah Mbah, paling hanya berkesempatan beberapa kali dalam setahun untuk berkunjung. Lebaran, arisan keluarga dan beberapa acara keluarga seperti nikahan atau sunatan sodara, yang jumlahnya bisa dihitung beberapa kali saja. Membuat saya tidak mempunyai waktu yang berkualitas dengan mbah. Jangankan dengan mbah, dengan sodara-sodara yang lain yang disana saja tidak. Jangan tanya silsilah keluarga besar saya, saya tidak hafal. Yang wajahnya familiar saja saya sering lupa namanya siapa.

Dan sekarang mbah sudah ngga ada. Satu-satunya yang saya sesali bukan kepergiannya yang tak berpulang sabtu kemarin, tapi waktu saya yang panjang terbuang tanpa pernah mengenalnya dengan baik. Pengetahuan saya hanya sebatas mbah pandai sekali membuat tape ketan. Enaaaaak banget. Tidak ada yang bisa menandinginya. Bahkan Bu Dhe, anak perempuannya yang tertua saja belum bisa bikin tape ketan seenak itu. Manis, asemnya pas. Airnya tidak kurang tidak lebih. Mbah juga pandai bikin kopi sendiri. Kopi yang dipetik dan diproses sampai jadi secangkir pekat hitam terenak kata bapak.
#sudah kangen mbah lagi

Ya Allah, mudahkanlah jalannya, lapangkanlah kuburnya, terimalah amalnya, ampuni dosanya.
AAMIIN
:')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown