Jumat, 27 April 2012

Pathetic Love

Aku mengamati dan diam-diam mengumpulkan segala tentangnya jadi satu dalam setoples kenangan warna hijau muda-warna kesukaannya. Setoples yang akan kusimpan entah sampai kapan.
 
 
Aku menghela nafas pelan, sedikit mendesah. Lihatlah, gadis itu tidak banyak berubah. Masih cantik. Masih beraroma hujan.  Tanpa sadar aku kembali memunguti remah-remah kenangan yang sempat tercecer lima tahun belakangan. Remah-remah yang sebenarnya dulu sengaja kutinggalkan. Gadis itu dan degub yang dibawanya serta. Orang-orang menyebutnya CINTA.
Aku bukan seorang spesial di sini. Semua, termasuk aku berjalan dengan rima yang sempurna. Datar. Aku bukan siapa-siapa, bukan laki-laki belasan tahun yang kaya raya, yang kemana-mana dengan mobil yang disesuaikan dengan jadwal harian. Senin BMW, Selasa Mercedes, Rabu Porshe dan seterusnya. Bukan pula laki-laki belasan tahun dengan paras rupawan idaman para wanita. Bukan laki-laki yang hanya dengan lewat saja membuat gadis-gadis berteriak tertahan atau rela berdesak-desakan hanya untuk melihat. Bukan, aku bukan seperti itu.
Aku hanya bayangan di sini, bayangan yang memanjang memendek di sudut ruangan persegi ini. Bayangan yang nyaris tak terlihat di pojok kanan belakang. Bayangan yang anehnya terus berusaha berpendar meski tak satupun memperhatikan. Setidaknya aku bertahan untuk waktu. Waktu yang tiba-tiba datang ketika dia tiba-tiba berbalik ke belakang, tiba-tiba tersenyum meminjam spidol biru tua, tiba-tiba merenggangkan otot leher yang kaku tegang, tiba-tiba mungkin dia menyadari kehadiranku. Di situ, di belakangnya.
Katakan kalau mungkin itu cinta. Perasaan ini lebih rumit daripada aljabar dan logaritma yang digabungkan membentuk linear-linear dengan konstanta tak beraturan. Sayangnya, aku tidak pernah berhasil menjabarkannya.
“Ajari aku untuk ulangan minggu depan,ya.”katanya pelan. Mengerjap-ngerjap dan tersenyum nakal sambil menyodorkan padaku beberapa buku sekaligus. Mata itu indah. Bulat, hitam dan bercahaya. Dan untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta pada mata itu dan pemiliknya.
Fisika, tidak ada yang terlalu sulit disana, bagiku. Cukup mengerti saja dasarnya selanjutnya tidak akan ada masalah. Yang masalah, adalah tidak lebih dari setengah meter gadis itu duduk di depanku, tepat di depanku. Tersenyum manis dengan lesung di pipi kanannya. Aku menelan ludah. Semua ini tidak pernah mudah.
“Bodoh. Begini saja tidak bisa.”
Aku melihat guratan kecewa di mata itu. Mata hitam itu meredup. Tuhan,apa yang barusan kukatakan? Tuhan, aku tidak bermaksud… Aku hanya…hanya tidak tahu harus berkata apa.
“Aku memang bodoh kok.”desisnya pelan. Sambil lalu pergi dari hadapanku sedikit terburu-buru. Marahkah?
Bukan. Bukan itu maksudku, aku tahu dia lebih suka sejarah dan sedikit lemah di fisika, dia hampir selalu memasang wajah menyedihkan setiap ulangan fisika. Dan pada akhirnya kertas hasil ulangannya hanya sekedar tertumpuk di laci mejanya, berupa bola-bola kusut dengan angka merah di pojok kanan atasnya. Aku tahu itu, bahkan akulah yang selalu mengambil bola-bola kertas itu setiap usai sekolah. Dengan bodohnya membawa pulang untuk kuberi tanda dimana rumus-rumus yang benar selalu diletakkan, memberi satu dua penjelasan dan membetulkan hitungan-hitungan yang salah sebelum paginya akan kukembalikan lagi dilacinya. Kukembalikan dengan coretan pulpen merah agar terbaca jelas, kukembalikan dengan bentuk bola-bola kusut sempurna seperti sebelumnya. Walau akhirnya bola-bola itu tetap di sana,tertumpuk memenuhi laci tanpa sempat terbuka untuk disadari ada yang berbeda.
Aku tidak pernah merasa sia-sia, bahkan untuk mendengarkannya bicara panjang lebar tentang fisika yang tak terjangkau olehnya sementara aku sendirian mengerjakan tugas kelompok berpasangan kami berdua. Sebentar-sebentar mengamati, geraian rambut, senyum tiga senti, cara duduk, bicara, semuanya. Aku mengamati dan diam-diam mengumpulkan segala tentangnya jadi satu dalam setoples kenangan warna hijau muda-warna kesukaannya. Setoples yang akan kusimpan entah sampai kapan.
“Kau pernah jatuh cinta?” tanyamu kala itu.
Aku diam. Sedangkan kau menunggu jawaban. Aku menggeleng pelan.
Kau mendesah, perlahan mendekat padaku dan berbisik,”kau harus jatuh cinta.”
***
Lima tahun bukan waktu yang singkat untukku. Aku meletakkan setoples hijau mudaku di tempat yang sulit kujamah. Bahkan dengan jinjit dan gapaian tertinggiku sekalipun. Aku tidak pernah berharap dia akan menemukan setopes itu dan  suatu saat tahu akulah orang yang mencintainya lewat bola-bola kertas hasil ujian atau pandangan khawatir padanya tiap kali upacara di Senin yang panas. Lima tahun yang kudapati hanya kata ‘belum sekarang’ dengan membiarkan setoples hijau mudaku tumpah,mengikhlaskan takdir membawa isinya terbang sesukanya dan merentas di mana saja.
***
Meriah. Gantungan lampion warna-warni di langit-langit ruangan. Musik dengan beat sedang yang terus-terusan diputar. Semua tampak tidak jauh berbeda, orang-orang masih bisa kukenali meski terpisah berapa lama. Sebagian terlihat sudah sukses terlihat dari baju dan tampilan yang mereka kenakan, sebagian lagi masih sama, biasa-biasa saja. Tapi gadis itu tidak berubah. Masih ceria dan bercahaya dengan matanya yang hitam bulat. Perasaan hangat itupun sama rupanya ketika melihatnya tersenyum, tertawa atau melakukan apa saja, tidak ada yang berubah.
“Hei,Dam.”sapanya ramah,”sudah bertemu Cinta?”
Aku tersenyum, mengangguk mantap.
“Cantik.”
Aku membungkuk untuk mengucak rambut  anak tiga tahunan bergaun merah dadu yang berdiri di sampingnya, “mirip kamu.”
***
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown