Sabtu, 28 April 2012

Pulang

**Aku tidak pernah benar-benar membencinya. Aku tahu dia adalah pemilik ketiga nama yang harus kubahagikan agar aku masuk surga. Dan aku tidak pernah mengingkarinya barang sekalipun. Tapi semua yang sudah kulewati beberapa tahun terakhir memaksaku untuk bersikap lain.**



Matahari nyaris tenggelam, menyiratkan semburat jingga dan sedikit biru keunguan di cakrawala. Burung-burung gereja mulai mencari jalan pulang, beberapa mungkin teringat pasangan yang sedang mengerami telur yang tak menetas juga. Begitu pula manusia, mulai berbondong menyusuri jalanan usai bekerja seharian. Ibu-ibu pekerja sebentar-sebentar melirik jam, takut terlambat membeli bahan makanan untuk masak makan malam. Sopir-sopir angkot berebutan menaikan penumpang, beberapa nyinyir disindir penumpang lain yang dipaksa berjejalan di angkot bau pengap. Sementara karyawan kantoran melonggarkan dasi, membuka jas, merenggangkan otot bersiap menghadapi perjuangan yang lain akan segera dimulai, berebutan jalan. Macet selalu tak terelakkan di kota ini, baik pagi saat orang memulai aktifitas maupun sore saat orang-orang mengakhirinya.
Aku, mungkin satu dari sedikit orang yang menyempatkan diri menengok langit sore ini, bertanya kabar apa yang dibawanya sekarang. Dan jingga yang menggelora seperti jawaban langit sedang bergembira. Merah, jingga, kuning, biru, biru tua, ungu, ungu muda sempurna tergambar. Meriah. Indah, sayangnya tidak banyak orang yang menyadarinya.
Aku menarik nafas panjang. Cahaya redup matahari senja menelisik di antara sela-sela tirai jendela kaca. Hanya aku di ruangan besar ini, ditemani desis AC di dinding dan layar komputer yang belum juga kusentuh sedari tadi. Tidak ada lagi yang harus kukerjakan sebenarnya, semua sudah kuselesaikan bahkan sebelum tenggat waktu yang ditentukan. Membuat si botak senyum-senyum puas.
“Good boy, kalau begini terus kau bisa kupromosikan boy, Senior Vice President,heh?” Si botak dengan kemeja yang selalu menyembulkan perutnya yang buncit tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya yang seperti timbunan lemak terlihat naik-turun selama ia tergelak.
Aku hanya tersenyum. Sebenarnya tak ada yang kuharapkan, imbalan berupa apa pun kuanggap sebagai bonus saja. Jangankan plesir ke Bali, si botak bahkan pernah dengan senang hati menawariku sepaket perjalanan ke luar negeri saat aku berhasil menyupayakan proyeknya di akhir tahun kemarin.
Semua ini kulakukan tidak lain hanya untuk diriku sendiri. Untuk diriku agar selalu punya alasan  tidak secepatnya bertemu secarik kertas persegi panjang yang tergeletak lemah di mejaku. Tiket penerbangan untuk pulang.
***
Aku tidak pernah benar-benar membencinya. Aku tahu dia adalah pemilik ketiga nama yang harus kubahagikan agar aku masuk surga. Dan aku tidak pernah mengingkarinya barang sekalipun. Tapi semua yang sudah kulewati beberapa tahun terakhir memaksaku untuk bersikap lain.
“Kamu ini kakak laki-laki. Harusnya bisa menjaga adikmu, si Anggi ini. Bukannya malah kau tinggal lari. Jatuh kan dia? Kau mau tanggung jawab,hah?”
Aku tertunduk. Percuma menjelaskan kalau Bu Nas tiba-tiba memanggilku saat aku bersiap pulang. Beliau memanggilku saat aku sudah menuntun sepedaku di halaman depan sekolah. Aku berlari buru-buru menjawab panggilannya dan Anggi, adik perempuanku satu-satunya, tidak sempat kuberitahu. Urusan membantu membereskan kertas-kertas hasil ujian bersama Bu Nas yang sedang hamil tua ternyata berlangsung lama. Dan Anggi yang tidak sabar, pulang sendirian. Di jalan entah dia keasikan mengahafal lagu Rayuan Pulau Kelapa atau kenapalah sehingga dia tiba-tiba jatuh terjerembab. Lututnya berdarah.
Anggi, selalu spesial di mata ibu. Gadis berlesung pipi yang terpaut 5 tahun dariku. Dialah yang permintaannya selalu dijawab oleh mamak, dialah yang selalu membuat mamak tersenyum bangga dan dialah yang selalu diwanti-wanti mamak untuk selalu kujaga.
“Karena Anggi itu mirip sekali dengan bapak kau,nak” kata Bu Dhe kala itu. Aku mengigit bibir. Menurutku itu bukan alasan yang tepat untuk mamak tidak menyayangiku dan lebih menyayangi adikku. Aku telah hafal di luar kepala tentang bapak yang meninggal saat Anggi masih di perut mamak. Dan mungkin, bagi mamak Anggi adalah ‘kenang-kenangan’ terakhir dari bapak. Tapi sekali lagi, bagiku itu bukanlah alasan yang pantas untuk seorang ibu membagi kasih sayangnya dengan berat sebelah untuk kedua anak kandungnya. Tunggu, apa aku benar anak kandungnya?
“Mamak tidak pernah sayang aku,Bu Dhe…”timpalku lirih.
Seperti biasa, Bu Dhe yang tak lain adalah kakak tertua mamak selalu menjadi tempatku bercerita. Aku sudah dianggapnya seperti anak sendiri, karena ketiga anaknya sudah pergi merantau ke tempat yang jauh sekali.
Bu Dhe tersenyum, memperlihatkan giginya yang merah karena sirih,”suatu saat kau akan mengerti, nak.”
Dan aku merengut seketika itu. Tidak puas, sama sekali tidak puas.
***
Aku kabur. Saat itu umurku tujuh belas, baru saja dinyatakan lulus SMA. Di daerah asalku, di mana sekolah adalah hal langka aku berencana melanjutkan kuliah. Di sini, tidak banyak lulusan SMA yang meneruskan. Kebanyakan akan manjadi perantau di kota-kota besar, bekerja sebagai buruh atau tukang bangunan atau bagi yang perempuan; menikah muda. Mamak hanya mengangguk tanpa bicara saat aku menyebut kuliah. Dan itu kuartikan sebagai ‘ya’.
Lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan saingan yang tidak sedikit tidak membuatku bangga. Karena yang kulihat mamak hanya melengos sambil medesah. Bagaimana mungkin aku yang berjuang di antara orang-orang seluruh negeri kalah dengan Anggi yang mendapatkan peringkat 5 di kelasnya. Penghargaan yang diberikan mamak padaku tidak pernah setinggi penghargaan yang diberikan pada Anggi. Aku selalu mendapat peringkat pertama, tidak pernah dielu-elukan seperti Anggi yang mendapat peringkat 8. Seperti itu tiap tahun dan aku lelah. Aku bosan. Aku memutuskan untuk berontak.
“Motor? Buat apa?”tanya mamak sambil menggoreng ikan munjahir untuk makan malam.
“Kuliah.”
Mamak masih sibuk dengan penggorengannya berkata dengan tidak sabar,”kau mau belajar atau mau pamer?”
“Aku mau motor,mak. Mamak tahu aku tidak pernah minta macam-macam, tapi kali ini aku hanya minta sebuah motor untukku dan itu masih terlalu berat untuk mamak?”
“Diamlah. Kau hanya akan membuat kepalaku pusing saja.”
“Mamak tidak pernah sayang padaku kan? Selalu saja Anggi,Anggi dan Anggi. Dan aku selalu yang kena marah, kena hardik, kena bentak. Aku benci Mamak.”
Begitulah. Aku memutuskan pergi beberapa hari lebih cepat ke ibu kota. Membawa pakaian dan uang seadanya. Aku diterima kuliah di salah satu universitas negeri yang terkenal,kupikir akan lebih baik jika aku lebih cepat memulai kehidupanku yang baru di sini. Aku meninggalkan semuanya di desaku. Aku enggan mengingat semuanya, bahkan mamak, jangankan membelikanku motor,menanyakan kabarku saja tidak pernah. Mulai saat itu aku membencinya. Membenci mamakku sendiri.
***
Suatu hari, aku bertemu dengan Mas Ali. Dia adalah anak tertua Bu Dhe yang merantau di Jakarta. Dia bekerja sebagai Office Boy di suatu perusahaan besar. Katanya gajinya cukup untuk dikirim ke desa untuk menghidupi keluarganya. Bahkan sanggup membeli satu dua petak sawah di sana. Seingatku Mas Ali tidak berubah, masih ramah dan wajahnya mirip sekali dengan Bu Dhe.
“Gimana kabarmu? Sehat to? Betah?” Tanya Mas Ali sambil menyeruput teh tawarnya.
Aku mengambil pisang goreng yang piringnya tidak jauh dari jangkauanku. Es teh pesananku belum juga datang, padahal di warung pojokan ini hawa panas Jakarta makin terasa menggila.
“Baik,mas. Alhamdulillah betah.”
“Kabar mamakmu gimana? Anggi?”
Aku menerawang,”baik.”
Mas Ali meletakkan gelasnya, beralih mengambil pisang goreng yang sengaja kudekatkan padanya.
“Syukurlah. Beruntung yo Fri, kamu bisa kuliah. Mamakmu sayang banget sama kamu soalnya.”
Aku berhenti mengunyah pisang gorengku,menatap laki-laki 30 tahunan itu dalam-dalam. Apa tidak salah?
“Kok,sampeyan bisa bilang gitu to mas?”
“Bu Dhemu pernah cerita…Ibumu bahkan sering tidak makan seharian demi kamu sama Anggi. Dulu ibumu waktu melahirkan kamu ya susah Fri, ibumu jalan kaki lho sampai ke tempat bidan. Soalnya ngga kuat bayar angkot atau becak. Padahal jaraknya 2 kilo lebih. Aku aja yang lihat ndak tega tapi ya gimana lagi.”
“Ah, yang bener,mas?”tanyaku tidak percaya.
Mas Ali mengangguk,”dulu bilangnya kau nanti bakal jadi anak hebat. Jadi cobaannya juga berat. Ibumu beli tanah dengan uang yang dikumpulin sedikit demi sedikit biar kamu bisa disini,Fri.”
“Maksudnya,Mas?”
“Lho..kamu pikir ibumu bisa dapat uang buat bayar kuliahmu dari mana coba? Dia aja dapat uang cuma dari jual sayuran. Uangnya ya dari jual tanah, sawah dan hutang. Aku saja ya Fri, tiap hari ditelpon ditanyain gimana kabar kamu, kamu tinggal dimana, kamu makan apa, kamu sehat apa ndak. Padahal kamu tahu, nelpon itu mahal tapi tetep saja disisain uangnya buat nelpon setiap hari. Tak kasih nomer telpon kosmu biar bisa Tanya sendiri ke kamu, bilangnya ndak mau mengganggu kuliah kamu. Ibumu itu sangat mengharapkanmu jadi orang hebat yang suatu saat bisa menjaga Anggi dan ibumu sendiri,Fri…”
Aku terdiam. Tiba-tiba teringat semua yang selalu dilakukan Mamak tiap hari di rumah papan kami. Pagi-pagi sekali Mamak sudah bangun, langsung memasak untuk aku dan Anggi sarapan. Sarapan dua porsi. Dulu kupikir Mamak juga sudah menghabiskan sarapannya, ternyata tidak. Mamak akan makan nanti siang dengan membiarkan aku dan Anggi yang terlebih dulu makan. Di meja selalu tersedia dua porsi makanan. Dan aku tidak pernah memikirkan apakah Mamak sudah makan. Sering kudapati mamak asik dengan nasi dan tulang-tulang ikan goreng yang belum bersih dari dagingnya. Mungkin itu tulang-tulang ikan sisa makan kami berdua.
Aku terlalu bodoh karena baru menyadari hal-hal seperti biaya kuliah. Tanah yang dulu kupikir Mamak simpan untuk Anggi ternyata adalah untuk biaya kuliahku. Dadaku sesak. Teringat ibu yang pagi-pagi berjalan kaki ke pasar, membawa ikatan daun pisang di punggungnya, sore hari berkutat dengan adonan bakwan yang akan dititipkan di warung-warung kopi kampung milik tetangga dan malamnya masih dengan anyaman bambu untuk dijadikan keranjang hingga lewat tengah malam. Ibu mengerjakan semuanya, sendirian. Ibumu itu sangat mengharapkanmu jadi orang hebat yang suatu saat bisa menjaga Anggi dan ibumu sendiri,Fri.
***
Aku mendesah. Rasa bersalah pada Mamak sudah lama membuncah dan aku selalu tidak punya cukup keberanian untuk bertemu dengannya. Aku malu pada diriku sendiri. Selama beberapa tahun ini, cukuplah aku untuk menyibukkan diri dengan segala dokumen pekerjaan yang seperti tak ada habisnya, bukan untuk apartemen dan mobil mewah seperti yang kumiliki sekarang, namun untuk pelarianku dari Mamak. Aku sadar, bagaimanapun juga aku harus pulang. Menebus segalanya meski dengan tidak sempurna, meski tidak akan pernah jadi setimpal.
Aku mengeluarkan ponsel hitam dari kantong celanaku. Menekan ‘Call’ pada urutan pertama daftar panggilanku. Ya,ini sudah saatnya.
“Hallo,Nggi…”aku menghela nafas panjang,”hari ini mas pulang.”
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown