Selasa, 24 April 2012

Rumah

Dua kali kemarin, saat pulang ke kudus tidak sengaja saya naik angkot yang isinya adalah ibu-ibu yang rumahnya sekitaran unnes sana, ibu-ibu (atau yang lebih pantas dipanggil mbah-mbah itu) dengan membawa hasil panen yang cukup banyak. Ada pisang, daun singkong, ketela dan masih banyak yang lainya. Unnes, bukannya mau merendahkan, wilayahnya memang agak sedikit di ‘atas’ dan jauh dari kota (baca:desa). Banyak penduduk asli sana masih bertanam di kebun atau di sawah. Hasil kebun itu nanti dijual ke pasar pagi-pagi sekali dengan naik angkot oren-hijau, angkot yang sama untuk mahasiswa turun untuk pulang ke kampung halaman. 

Seperti saya sabtu pagi itu. Harus rela sedikit membagi tempat dengan ibu-ibu dan barang bawaannya yang tidak sedikit. Tapi entah kenapa, saya merasa nyaman sekali. Ibu-ibu dan segala bawaannya itu mengingatkan saya pada seseorang. Mbah saya. Almarhumah. 

Saya pada dasarnya memang sudah akrab dengan kegiatan tanam menanam-panen-menjual hasil panen dengan keranjang bambu seperti-saya akrab dengan itu semua. Karena mbah saya. Keluarga besar saya yang sederhana di Jepara. 

Di sepanjang jalan, ibu-ibu itu saling bercerita. Bukan tentang blackberry atau diskon Tupperware beli dua dapat tiga, tapi tentang tetangganya, saudaranya, keluarganya atau bahkan sapi-sapinya yang beranak kembar. Tentang ibu yang meninggal, nikahan saudara yang harus diingat harus dibawakan gula seberapa dan cucu yang mulai berjalan. Mendengarkan dengan seksama kata per kata. Saya menikmatinya. Kehidupan yang sederhana. Damai. Tidak perlu susah-susah memkirkan partai ini masuk pemilu-menteri ditahan karena suap-artis dangdut yang mau dinikahkan sama ustadz.

Saya kangen sama mbah, dengan kesederhanaannya. Dengan tangannya yang lembut padahal melakukan apa saja bahkan ke kebun untuk ambil rebung sendirian. Dulu,sebelum sakit. Yang dibicarakan juga hal yang itu-itu saja. Tapi selalu ada yang berbeda. Si ini menikahkan anaknya, dapat orang sana, harus membawa rokok atau gula seberapa, juga tentang sawah yang airnya tidak sebanyak biasanya atau pohon mangga yang lagi malas berbuah. Di antara obrolan-obrolan itulah saya merasa nyaman. Karena itulah rumah saya yang sebenarnya. Rumah yang jauh dari mana-mana. Rumah yang letaknya jauuuuuh di pedalaman Jepara. Yang listrik saja baru ada beberapa tahun belakangan. Yang di depannya ada bunga bangkai langka yang mekar belasan atau puluhan tahun sekali saja. Yang dibekalangnya ada sungai untuk mandi atau mencuci. Yang sinyal adalah barang langka untuk M3.

Satu hal yang saya ingin, semoga rumah itu tidak berubah. Biarlah jalan-jalan itu susah dilalui agar rumah itu tetap seadaanya. Egois ya saya? Memang iya. Karena bagi saya, rumah saya itu adalah segalanya. Saya ngga akan rela jika sesuatu terjadi pada rumah saya itu. Haha. Benar-benar egois ya saya.
betewe, kapan ke jepara lagi ya :3

2 komentar:

  1. huaaaaaaaa :'(
    dadi pengen balik :'(
    kangen omaaaaah

    BalasHapus
  2. ndang muleeh tooo,
    aku kangen rotine ibukmuuu :9

    BalasHapus

Yellow Crown