Senin, 01 Oktober 2012

jarak dan waktu itu

setidaknya aku pernah jadi bagian 'yang ini namanya siapa?' mu, dan aku dengan senyum terlebarku menyebut namaku dan tak lupa menunjuk pula kedua kakakku, menyebut nama mereka satu per satu.
memberi sentuhan dari dahiku pada tangan keriputmu itu lebih dari sekedar memberi hangat di hatiku, entah kenapa. padahal kita jarang bertemu kan. bisa dihitung satu dua kali setahun.
dan aku masih dengan senyum terlebarku, memandangmu.
menyadari sebagian darahku mengalir pula di arterimu,
andai kau cukup jeli melihatnya, mbah, ada setitik embun yang di mataku.
yang sayangnya bukan karena bahagia karena bisa bertemu,
tapi lebih karena iri pada kedua kakakku.
yang diberiNya waktu lebih banyak mengenalmu.
karena diberiNya rentang 11 dan 9 tahun pada mereka pada ku.
karena diberiNya jarak yang terlalu dekat dari rumahmu dan rumah kami atau mereka dulu.
karena diberiNya sehatmu untuk berjalan beriring ke hutan mencari kayu bakar dulu.
karena diberiNya tawamu dengan kualitas dan kuantitas yang tak terhitung.
kenapa Tuhan dulu mencipta dengan rentang 9? kenapa bukan 1 atau 2?
sehingga aku juga bisa bangga mengumpulkan cerita tentang bangau putih yang dulu banyak tapi sekarang tak ada, atau tentang hutan yang dulu penuh dengan banyak pohon tingginya tapi sekarang jadi perumahan, atau tentang sungai dan batu dan pohon ketela pohon besar objek 'berkuda' bersama.

lalu ketika kabar dirimu yang sedang sakit keras. selain berdoa, aku harus apa? bahkan memori tentang kita tidak banyak tercipta?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown