Sabtu, 03 November 2012

bukan soal sok tegar

kenapa saya tidak pernah cerita soal bapak saya yang dirawat belasan hari di Semarang ke teman-teman kos saya? sebenarnya alasannya simpel, saya hanya tidak mau sikap teman-teman saya jadi berubah pada saya. jujur saja ya, saya tahu beberapa orang yang sedang terkena musibah atau masalah menjadi sasaran empuk buat oknum-oknum untuk bertanya 'kenapa' atau 'ada apa'. sebagian oknum-oknum itu mungkin memang tulus ikhlas peduli, tapi saya yakin sebagian lagi cuma ingin tahu apa yang terjadi. ujung-ujungnya apa? mereka pasang muka melas tapi otaknya mencatat apa yang kita katakan, mencatat baik-baik setiap penekanan dengan spidol warna terang biar ga lupa setiap detail buat diceritain ke orang lain lagi, lagi, lagi dan lagi.
seperti wartawan yang sibuk cari berita terpanas untuk dijadikan headline koran, kesedihan kita cuma untuk menarik perhatian orang lain, menjadi bumbu ceritaan di pojok sana agar oknum-oknum itu jadi pusat perhatian, atas kita.

sayangnya saya ga pernah nyaman dengan situasi seperti itu, bukannya saya menganggap semua teman saya seperti itu, bukan, saya hanya mencengah agar hal seperti itu tidak terjadi. dan sama sekali tidak mudah juga buat saya bilang semua baik-baik saja. saat sore saya harus ngejar angkot buat ke rumah sakit, terpaksa berteman dengan atmosfer rumah sakit, menjaga bapak tetap kuat meski setiap hari denger keluhan om tentang rumah sakit-dan-ga-pulang-sebulan ke teman-temannya lewat telpon, tidur di lantai rumah sakit, tiap tengah malem buang pispotnya bapak, bangun pegel-pegel, berangkat pagi buat ngejar kuliah lagi. saya juga capek. ini semua saya lakukan bukan demi terlihat kuat atau sok tegar. tapi mau bagaimana lagi.

dan kos, adalah tempat saya satu-dua jam istirahat dari itu semua. dari tugas kampus dan tugas keluarga. di sana saya hanya ingin semua orang bersikap biasa saja untuk saya yang sejenak ingin pura-pura lupa tentang sakitnya bapak. tanpa perlu setiap pulang kos ditanya 'gimana keadaan bapak?'. cukuplah kos menjadi tempat yang nyaman sebagai tempat pelarian saya. yang ramai tentang candaan soal berat badan saya, tentang teman-makan-temannya Rahma, tentang dietnya vita, dan tentang inspeksi kebersihan mendadak sang nyoyah besar.
dan tidak bercerita tentang sakitnya bapak terbukti adalah keputusan yang benar.
meskipun bapak pernah bertanya tentang teman-teman saya yang tidak datang untuk sekedar berkenalan, saya tersenyum saja.

saya minta maaf karena tidak bercerita pada mereka,tapi saya sampai saat ini juga tidak merasa menyesal. bukan berarti saya tidak menganggap kos ini penting atau bagaimana. setelah dua tahun saya yakin kami sudah seperti saudara, nyaris mengenal satu sama lainnya luar dalam. hanya saya ga pengen nambah beban, baik itu beban pada teman-teman saya yang harus pasang wajah 'aneh' jika tahu bapak saya di-rumah sakit-kan tapi juga beban pada saya yang bisa saja kehilangan rasa nyaman di kosan. hanya itu, tidak lebih. saya egois? mungkin.

tapi yang paling baiknya semua baik-baik saja. tidak ada lagi kejar-kejaran angkot pagi-sore hari. alhamdulillah semua membaik :)
maaf sekali lagi sudah membuat kalian khawatir. saya sayang sama semua penghuni kos nandia, dan saya yakin begitu juga sebaliknya.
CIYUS. MI A YAM :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown