Senin, 12 November 2012

Karena mendidik adalah pekerjaan hati

Bukan melulu tentang besaran rupiah yang didapat lima –tujuh tahun yang akan datang. Belum lagi tentang pesangon dan semua keuntungan yang dibawa seragam yang berganti menurut hari. Yang ironisnya, pengajar-pengajar di perguruan tinggi tempat saya bersekolah,selalu tekankan sebaliknya, mendewakan seragam setelan dan uang yang kelak akan menjadi ‘seberapa’.
Sederhananya, ini tak lagi tentang ikhlas. Ini tentang uang.

Kami diperlakukan seperti benar-benar akan menjadi salah satu orang berseragam, setiap hari dijejali tentang hitungan keuntungan dan segala fasilitas yang akan kami dapat kalau jadi satu dari mereka. Tidak ada yang salah pada itu semua, hanya saja saya mulai bertanya ‘ini kah sebenarnya tujuan kuliah di prodi pendidikan? Untuk mengejar S.Pd di belakang nama lalu menjadi guru pegawai pemerintahan?’

Padahal Indonesia jauh lebih butuh orang-orang yang sekedar mengejar rupiah.
Saya yakin di balik  pegawai-pegawai yang mengajar karena kewajiban-asal cukup baik dilihat saat atasan presensi saja- di sela hutan sana ada yang mengajar karena keharusan. Keharusan karena hati yang meminta, keharusan karena iba, keharusan karena kalau bukan dia siapa pula yang akan mengajari bocah-bocah setengah telanjang itu huruf dan angka.

Di saat pegawai-pegawai itu berasalan sakit nyaris serombongan sehabis libur panjang, ada begitu banyak orang yang duduk kesemutan di bawah kolong jembatan mengajari bocah-bocah berbau aspal dua tambah dua, di nyaris tengah malam sehabis bocah-bocah itu ‘bekerja’.

Sementara televisi menyajikan berita guru pegawai pemerintahan bertindak tak senonoh pada muridnya, ada juga sosok-sosok yang merangkap pemulung, pengajar alif ba ta tanpa bayaran.
Juga orang-orang tanpa embel-embel seragam mengabdikan hidupnya sebagai pengajar muda, menunda keberhasilan versi ‘umumnya kita’, berpindah ke tempat berantah tanpa dijanjikan hal-hal mewah.

Atau di hari-hari kerja menuju lebaran, baik guru maupun pegawai pemerintahan di jam-jam kerja dengan seragam dinas lengkap ikut berdesakan di toko-toko makanan ringan,takut kehabisan. Bagaimana dengan murid-muridnya, ditugasinya mengerjakan LKS atau dibubarkan paksa,entah.

Tapi masih juga ada guru-guru berseragam yang berani berdiri di garda depan, berteriak lantang tentang kecurangan ujian nasional. Mempertaruhkan semua yang dia punya. Dibenci lingkungannya bekerja. Terkucilkan dari masyarakatnya.

Indonesia butuh sekedar jajaran orang berseragam berdiri bersikap hormat pada selembar merah putih tiap Senin di lapangan.

Konyol jika kami-calon guru, calon pendidik -selalu dijejali omongan matematis uang dan keuntungannya. Tanpa pernah diusahakan oleh senior-senior kami, pengajar-pengajar kami, mengetuk hati dengan menghadirkan fakta bocah-bocah berjalan kaki tiga-empat kilo hanya untuk sekolah. Menghadirkan contoh yang baik bagaimana menjadi pengajar yang baik untuk Indonesia yang lebih bersih, bukan hanya bagaimana membuat silabus, materi dan media pembelajaran yang sudah distandarisasi.

Karena pondasi yang baik bagi kami, menurut saya, akan menentukan akan jadi apa kami kelak. Menjadi guru yang terfasilitasi tunjangan dan jaminan sosial serta dapat mempertanggung jawabkannya dengan bekerja sebaik-baiknya atau menjadi guru yang mengajar karena memang sudah menerima yang seharusnya diterima.

Karena pendidik, guru khususnya, adalah bagian vital dari sebuah negara. Sejarah bercerita saat negeri sakura mengalami kehilangan besar-besaran puluhan tahun silam, yang pertama dicari bukan lagi makanan atau sandang papan melainkan guru-guru terbaik untuk memulai kehidupan kembali dari awal.

Indonesia butuh sekedar guru biasa. Yang kesadaran dan ikhlasan menjadikan guru pilihan hidup bukan karena,sekali lagi, rupiahnya saja. 

Karena ilmu bisa dicari. Kualitas akal bisa diperbaiki. Tapi kualitas hati, entah apa bisa dibeli.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown