Sabtu, 30 Maret 2013

saya dan motor

 Saya sedang dalam proses mengerti kenapa bapak saya hingga detik ini belum juga menurunkan ijin untuk saya mengendarai motor ke Semarang atau kalau tidak, mengijinkan saya membawa motor ke kosan. Saya sudah akrab dengan motor sejak SMA kelas dua tepatnya. Kebetulan rumah saya cukup jauh dari sekolah, sekitar 6-7km. Jatoh pun pernah beberapa kali *bangga* tapi tetap saja bapak menentang habis-habisan. Menurut saya semuanya akan lebih mudah kalau saya bawa motor sendiri. Pulangpun cukup 1.5 sampe 2 jam perjalanan dari kos, bandingin kalo naik bis pernah sampe 4.5 jam.

Apalagi dengan kondisi keuangan kami sekarang, dengan motor saya bisa aja ngelesi kemana-mana. Setahun belakangan saja sudah ada beberapa tawaran ngelesi yang saya tolak, alasannya apalagi kalau bukan soal kendaraan. Secara kalau ngelesi setidaknya harus sore pulangnya bisa magrib. Disini mana ada angkot yang narik lewat setengah 6?!
Kembali ke soal masalah keuangan. Iya, sehabis kejadiaan kecelakaan bapak yang memerlukan biaya berobat kurang lebih sampai 100 juta beberapa bulan kemarin,semua yang bisa dijual, dijual. ibuk harus benerbener pinter muter uang agar semua lubang bisa ketutup dan lubang yang terbesar adalah pada anak terakhirnya,saya. Mbak-mbak saya tidak perlu ditanya sudah pasti memberikan bantuan pada orang tuanya tiap bulan, tapi kebutuhan mereka juga ga kalah banyak, ada cicilan rumah, asuransi pendidikan, bayar sekolah atau terapi untuk aca. Dengan ngelesi, bayangan saya, walaupun mungkin hasilnya cuma sedikit bisa membantu beban mereka. Saya tidak perlu meminta bayar buku yang total nominalnya naudzubillah di awal semester ini. Juga ga perlu minta uang semacam beli pulsa dan ekstrimnya saya kadang harus rela makan sehari sekali untuk ngirit.

Pernah suatu hari kami berantem soal itu, ya bisa dibilang beradu argumen. Soal membawa motor ke kosan. Efeknya hebat, kami tidak bicara sampai berapa lama. Yang paling saya ingat, kurang dari seminggu setelah 'pembicaraan' kami bapak menelpon dan kondisi kami belum juga saling bertanya kabar sama sekali. Hari itu saya lagi mencuci, malas mengangkat telepon dengan tangan basah. Bisa saya sms lagi nanti,pikir saya. Satu kali..dua kali..tiga kali..akhirnya saya angkat. Bapak yang menelpon kali itu, bilang minta doa agar diberiNya baik-baik saja. Hari itu, hari kecelakaan bapak. Saya merasa bersalah. Karena pembicaraan terakhir kami memberikan kesan yang buruk sekali. Jadi, setelah saat itu, saya tidak tidak pernah mengungkit lagi soal membawa motor ke kosan.

Hebat, saya tidak pernah merasa setertekan ini hanya karena masalah uang. Saya bukan dari keluarga kaya, tapi dulu kebutuhan saya selalu tercukupi dengan baiknya. Entahlah, sedikit berbeda saja sekarang. Apalagi dengan keadaan PKM saya dan temanteman setim yg lolos tapi harus bikin produk dulu bahkan saat uang modalnya belum turun dari pihak universitas. Sekelompok saya harus rela 'menalangi' dulu untuk biaya produksi awal. Dari mana saya bisa dapet uang talangan itu? Sedangkan minta ke ibu saya ga akan pernah tega. Anjritnya saat saya selalu pusing mikir soal ini,seorang teman sms soal uang talangan. Berkalikali, pengen nangis rasanya. Bahkan saat saya sms soal tugas yang kebetulan kami serombel di suatu mata kuliah,dia dengan santainya bilang soal uang talangan yang mana samasekali tidak ada hubungannya dengan apa yang saya tanyakan. Padahal hari itu saya makan satu kali saja karena ga ada uang tersisa. Rasanya? Great. Nyesek banget.

Saya bukannya tidak mau membayar,saya mau karena itu adalah sesuatu yang memang harus dilakukan,mengerti posisi kami yang harus mulai produksi dengan dana sendiri adalah posisi yang sulit. Yang sulit saya terima adalah keadaan saya sekarang dan teman saya yang dengan riang-gembiranya bicara uang talangan pada saya yang mikir darimana bisa dapat uang sebesar itu secepatnya.

Ya,Allah, padahal ngeluh itu ga boleh ya.
Tapi saya memang kadang marah sama diri sendiri, posisi diri, dan keadaan. Marah  juga kenapa abinaya sepi pelanggannya. Sudah lama ga dapet orderan. Ya Allah :(

Semoga hamba bukan hamba yang kufur nikmat. Padahal udah dikasih banyak masih aja minta yang lainnya. Maafin anik ya Allah. Tapi ngeluh curhat disini gapapa ya? Biar legaan.

Ya Allah, ampuni hamba.
Ya Allah, minta uang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown