Jumat, 05 April 2013

super daddy

Baru kemarin, kamis tepatnya waktu pelajaran english for your learner jam 9 saya dikasih tahu wakhyu kalo bapaknya mba yani meninggal. Mba yani, umurnya sepantaran sama saya, tapi berhubung saya punya kebiasaan aneh (sebut saja insting) dalam penyematan kata 'mbak' di depan nama seseorang, jadilah yani jadi mbak yani. Saya yang dikasih tau wakhyu kaget. Berita kehilangan tidak pernah tidak membuat kaget kan?

Saya langsung keinget bapak di rumah. Kata-kata menggurui macem 'semua baik-baik' aja itu seperti sampah buat saya di saat situasi semacam itu. Mana ada semua bakal baik-baik aja setelah ditinggal pergi sama orang kita sayang? Semisal bapak?
Apalgi buat saya yang memang cukup dekat dengan beliau, disebut manja pun bisa. Dan beliau adalah patokan saya untuk menentukan kriteria suami saya kelak.
Bapak adalah orang yang paling sayang sama keluarga yang pernah saya kenal. Bagi keluarga kami ato keluarga dari keluarganya bapak atau keluarga dari ibu.  Bapak yang ga pernah keliatan lemah itu pernah nangis waktu denger mbah sakit, bapak yang rela utang sana-sini buat beliin obat adeknya yg sakit cukup parah, bapak yang ga lulus SD tapi mau-maunya mikir soal sekolah harus tinggi padahal anaknya perempuan semua (yg katanya perempuan bakalan cuma mentok di dapur-sumur-kasur doang).

Saya dan mbakmbak saya selalu dididik bahwa kami hidup tidak akan pernah sendiri, ada keluarga di belakang kami yang jauuuuuh lebih penting daripada materi. Beliau tidak pernah mengatakannya secara langsung, kami cukup melihat saja ketika bapak selalu menelpon sehari bisa sampai tiga kali pada anggota keluarga besar  nan jauh kami yang sakit, seperti pak lik saya yang kemarin infeksi kulit agak parah, bapak sibuk sendiri cari obat ini-itu dengan kondisi keuangan kami yg juga lagi amburadul, tidak hanya itu bapak tiap hari menelpon pak lik tanya kabar (saya sendiri yakin pak lik sampai bosan tiap hari ditanyain -,-).

Bapak yang ga lulus SD tapi kerja kerasnya luar biasa biar anak-anaknya sekolah dengan tenang. Sementara mungkin ada ayah-ayah lain yang lulusan perguruan tinggi yang sibuknya adalah bagaimana mencari beasiswa untuk anak-anaknya sekolah dengan biaya seminim mungkin karena usahanya kurang keras. Tapi bapak berbeda, kami memang bukan keluarga kaya, tapi kebutuhan kami harus selalu ada. Seperti saya yang dapat laptop dan motor pertama saya saat kelas 2 SMA.
Karena prinsip hidup beliau adalah hidup untuk keluarganya. Jadi beliau entah bagaimana mau saja menyampingkan kesenangannya, kenyamanannya dan kepentingannya untuk kami,anak-anaknya.

Aaah, terlalu banyak yang bisa ditulis soal bapak, mungkin tulisan ini tidak akan berhenti di sini saja, tapi akan ada tulisantulisan lain di belakang  :')

Dan satu lagi, untuk calon suami saya, yang entah itu siapa, kalau saja kamu baca ini, setidaknya sudah ada gambaran kan?

:")

Selasa, 02 April 2013

Binder and Doodles

Beberapa minggu kemarin waktu di kelas LTT, di lab tepatnya, saya yang nganggur gada kerjaan iseng keliling tempat duduk temen, sampailah saya di tempat duduk (ato kabin? ato kotak?) salah seorang temen saya yang lagi keluar buat sholat. Di atas meja nemu bindernya nih, ya karena tadi saya udah bilang kalo saya lagi nganggur gada kerjaan, maka saya gagahilah *apaan coba* itu binder.
Dan saya shock.
Ternyata temen saya itu pinter gambar *_*
Gambarnya bagus bangeeeet.





Yang di atas itu sebagian dari gambar-gambarnya beliau. Gambar aselinya lebih bagus lho jadi bikin saya mupeng parah. Jadi bikin saya napsu doodling di binderan. haha.


Karena sudah liat hasil karya beliau, jadi kaya kurang afdol kalau belum kenalan sama si empunya binder. Tetterereret.... Ini dia panggil saja dia Mr. Hanif (bukan nama samaran). Status dipertanyakan. Entah masih single ato sudah berpasangan. Jika berniat hubungi saya :P



Yellow Crown