Kamis, 15 Agustus 2013

doa

pict from here
Ketika tangan-tangan kalian mulai keriput menganyam mimpi terakhir, aku dengan egoisnya merebut dan mengacak-acak anyaman itu sehingga tak berbentuk benda. Mungkin karena akulah kalian masih pegal malam-malam, diam-diam memasang koyo dua ribuan di kaki dan punggung yang tegang habis bekerja. Padahal seharusnya malam adalah ketika kalian berfikir besok mau main apa dengan kaki-kaki kecil penghambur tawa; cucu-cucu kalian.

Karena bisa jadi akulah penjahat kelas dunia, karena pundi-pundi yang kalian kumpulkan dari kepingan lusuh itu kurampas dengan seenaknya. Menggantinya dalam urusan buku dan tetek bengek perkuliahan. Memaksa kalian menggadaikan mimpi yang sekarang tak lagi kalian berani mengharapnya. Mimpi yang dulu kalian tatap dengan percaya diri dan 'ya' mantap kini berganti pasrah diikuti 'terserah tuhan saja'. Dan aku bisa-bisanya masih berhaha-haha bahagia.

Maaf telah menjadi pohon yang tidak meneduhkan, maaf telah menjadi benalu yang menyusahkan. Maaf atas mimpi yang terpaksa tergadaikan. Maaf atas segala lelah, peluh dan lara yg selalu tertorehkan. Maaf atas tanah suci terpaksa masih termimpikan. Maaf atas sesuatu yang hanya berbentuk doa 'secepatnya...secepatnya'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown