Rabu, 28 Agustus 2013

Tetiba teringat



pada suatu malam di satu warung kopi di sudut kota, aku dengan teh aroma beri dan seorang kawan lama yang duduk dengan float rasa vanila, bertanya perlahan 'benarkah?', aku tersenyum sepat, menerawang.
entah darimana kabar itu berasal -tentang perpisahan- aku merasa tidak terlalu mengumbar di jejaring sosial, yang banyak mereka-mereka gunakan. kecuali disini, mungkin tapi aku ragu orang-orang dari dunia nyataku sering berlabuh kemari, termasuk dia penanya yang membuatku mengigit bibir.
aku mengangguk,'begitulah...tuhan punya rencana sendiri'.

perempuan itu tersentak, dan mulai bertanya sejak dan kenapa. aku menjawab pertanyaan pertama mantap tapi tidak untuk yang kedua. aku meragu harus menjawab apa, kenapa adalah pertanyaan yang paling kuhindari bahkan untuk diriku sendiri. kenapa.

perempuan itu dengan polosnya bercerita tentang taruhan bahwa kamilah yang nantinya pertama, memberi kabar bahagia tentang dua keluarga yang disatukan, tentang undangan dan kehebohan memilih kebaya pesta. perempuan dari waktu seragam putih abu yang lugu dan aku yang pura-pura tersenyum. aku berusaha mengangkat dagu, menutup perasaan aneh yang tak sanggup untuk sekedar aku sebut. bukan penyesalan, tapi lebih ke- bisa tolong jangan lagi diingatkan?

aku tersenyum lagi, untungnya dia mengerti.
pembicaraan terhenti. satu, dua jeda. hanya ada akustik mengiringi.

malam mulai matang lalu kami harus buru-buru pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown