Senin, 30 September 2013

modus tuhan

semua kejadian 5-6 minggu terakhir ini menyadarkan saya bahwa tuhan punya modus sendiri dengan rencananya. tuhan cuma mau saya lebih dewasa, lebih cerdas menjaga hati dan emosi, lebih cerdas berfikir 'ternyata di dekat kamu ada lho yang seperti ini' dan lebih memposisikan diri sebagai orang lain. dan tuhan punya caranya sendiri membentuk saya menuju sana. menjadi gadis berumur 20an yang mulai berfikir matang.

saya dikelilingi orang-orang yang sayang sama saya (setidaknya saya membentuk pikiran seperti itu) saat kata pulang menjadi barang langka buat saya, saya cukup datang ke depan kelas yang saya ajar, mendengarkan sebagian dari mereka bicara apa saja. perasaan diterima itu cukup melegakan.
ditambah lagi perasaan sakit, kecewa, bahagia, puas, senang, cinta.
ah, yang terakhir ini cukup membingungkan.

tuhan, sekali lagi terima kasih :)

Kamis, 12 September 2013

perasaan senja



jika kau tanya perasaanku saat itu, maka akan aku jawab ia seperti senja.
tidak merah, tidak kuning, tidak biru, tidak pula hitam. ia hanya sepotong warna baru bernama senja.
entah apapun itu definisi senja bagi sebagian orang, bagiku senja adalah perasaan ketika aku menekan tombol hijau di jalan menuju pulang dari seorang kawan. lalu kabar itu datang, kabar beraroma kematian. beliau (akhirnya) berpulang setelah setahun lebih jatuh sakit, tak sanggup bangun bahkan menelan makanan.
beliau, seseorang yang kupanggil embah.
aku tidak menangis saat itu,aku berusaha tenang dibalik punggung seorang teman. tidak ada air mata di sana, entah apa karena aku sudah menyiapkan hati jauh-jauh hari sebelumnya atau karena apa. ada kesedihan yang sangat, tapi hambar. aku hanya bisa merapalkan doa-doa di sepanjang jalan, beberapa bait alfatihah dan sepucuk doa sederhana tentang pengampunan dosa untuknya di sepanjang jalan yang entah apa namanya (setahuku di kiri kanan hanya pohon dan perdu liar). aku tidak ke rumah hari itu, ada beberapa alasan yang tidak memungkinkan untukku kesana. 'yang penting adalah doa' kata bapak. aku mengangguk.
berusaha merapikan kenangan tapi tetap tidak banyak yang tersisa. mungkin itu yang membuatku tidak berair mata.
aku mencintainya, itu saja.
kembali lagi, darahku sebagian miliknya.
dan doa adalah satu-satunya yang bisa kuberikan.. semoga bertemu di surga..

Selasa, 03 September 2013

a-must-thing-to-talk-about

bertambah lagi satu hal yang akan saya hindari jauh-jauh kalau saya punya anak besok. membawakan anak saya motor. sebelum berumur tujubelas. sebelumnya saya mau cerita tentang kejadian hari sabtu kemaren. tiga anak di lingkungan kami tinggal sementara selama PPL ini ada yang kecelakaan.

dua orang kelas 7 SMP -satria dan david- dan satu orangnya lagi masih duduk di kelas 5 SD -galang-. masalahnya galang adalah salah satu anak yang tiap jumat main ke tempat kita untuk belajar bareng. Jumat kemaren dia juga masih dateng bawa buku IPA buat belajar bareng Susi, Imam dan Bahtiar. gimana kita nda lemas ya dengar kabar mereka naik motor bertiga, alasannya mau pinjem buku ke rumah temen, tau-tau terjadi kecelakaan di jalan raya. David yang posisinya di belakang mental dan bagian belakang kepalanya hancur. meninggal seketika. David, yang bawa motor di depan, sampai saya tulis postingan ini masih kritis dan belum sadar. Saat ini dirawat di rumah sakit Jogja. Galang, the luckiest one yang duduk di tengah 'hanya' dapet tujuh jaitan di lutut kanan kirinya dan sekarang masih trauma. 

See, anak-anak SMP itu udah mulai dibolehin bawa motor sama bapak-ibuknya. kelas satu SMP. ngga tahu ya, saya masih belum bisa menerima alasan apapun untuk membolehkan anak kelas satu SMP bawa motor. bagi saya umur segitu masih belum bisa apa-apa. oke, mereka mungkin udah bisa mbedain ini rem, ini gas, ini kopling. tapi gimana dengan pikiran mereka yang masih labil, yang pengen eksis keliatan keren dengan gas-gasan segala macem di jalanan. terus siapa yang mau disalahkan? orangtua? bisa jadi.

saya pernah baca tulisan seseorang yang bisa saja menuntut orang tua yang mengijinkan anaknya yang belum cukup umur naik motor sebagai pembunuhan berencana. I am totally agree. orang tua jaman sekarang mungkin terlalu memanjakan anak (kalau tidak mau dibilang memanjakan dirinya sendiri). anak diberi motor biar kemana-mana bisa sendiri, orang tua terlalu sibuk dan ngga punya waktu untuk nganter kesana-kesini. yaudah, untuk gampangnya beliin satu motor, beres semua urusan.
padahal orang tua bisa jadi kurang awas pada anaknya, si anak pergi tanpa ijin, entah kemana, tanpa helm. ditambah lagi dengan kecurangan yang 'harus' dilakukan untuk pembuatan SIM untuk anak di bawah umur.

talking about facts around us. udah bukan barang rahasia kalau sekarang anak SMP sudah punya SIM. SMP jeeeek, yang mbenerin baju aja masih perlu dibantu, yang paling pol paling umurnya 15an, udah punya SIM.  Great!

Selain rumah tanpa TV semoga motor bukan untuk 'anak kecil' juga bisa saya terapkan  di rumah saya kelak. saya tidak mau mengingkari motor adalah kendaraan paling fleksibel untuk saat ini,tapi untuk anak SMP?! please... saya insya allah siap nganter jemput anak saya kalau memang harus begitu, saya cuma ingin menjaga anak-anak saya dengan bener, itu aja.

Dear, futurelife partner, sebelum punya anak ini jadi 'a-must-thing-to-talk-about' ya..

cinta diam-diam

a boy. and a girl. by *frixin on deviantart
pict from here

tidak ada yang lebih manis dari cinta diam-diam, yang disembunyikannya dalam degup tertahan, dalam senyap dan dalam rapal doa-doa bersahaja. mulut kita bicara, kadang tentang cuaca, artis ibukota atau judul buku baru di toko sudut kota, tapi hati nyatanya tidak.
hati terlalu diam, terganti dengan huruf-huruf yang terpaksa keluar menggantikan ucap suara. cinta diam-diam tertambat di catatan harian. menjaga yang tak terungkap tetap berlabel rahasia. meski kita di depan pintu yang sama, tapi kita masih enggan membunyikan bel selamat datang. menanti waktu menjawab apakah ia akan jadi kenangan-kenangan atau malah tetap bertahan.
cinta diam-diam, sebagian orang bilang itu perlu diungkapkan.

bagiku, cinta diam-diam itu menentramkan.
 
Yellow Crown