Senin, 09 Juni 2014

3-4 months ago

Halo semua, akhir-akhir ini saya jarang berkunjung kesini ya. Ada yang kangen saya? Hihi
Padahal blog ini sudah lama ya dan semakin lama semakin tidak terurus saja rasanya :P bagi yang sadar sebernarnya saya nulis di blog ini kalo ga lagi seneng banget ya lagi galau banget (biasa, anak muda) sekarang saya ingin cerita tentang sesuatu yang hanya saya dan temen-temen terdekat saya saja yang tahu. Tentang kejadian 3-4 bulan yg lalu, yang sempat bikin saya down di titik terendah saya dan perjuangan untuk bangkit seperti sekarang (okay, ini alay sekali). Mungkin akan sangat panjang, jadi akan saya bagi jadi beberapa bagian. Tulisan ini murni pengalaman saya, saya jujur menulisnya tidak ada paksaan dari pihak manapun. Di sini saya akan mencoba terbuka dan tidak ada unsur kebohongan sama sekali. Semoga bisa diambil sebagai pelajaran ya..

Saya awalnya juga bingung harus memulai menulis dari mana karena sepertinya akan sangat panjang, mungkin awal pengabdian PPL di salah satu sekolah di daerah Magelang bisa jadi pembuka yang baik untuk cerita saya kali ini. Ya, PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) adalah matakuliah wajib di semester 7 kemarin, sebagai calon pendidik kami diharapkan sudah punya pengalaman dalam mengajar di kelas, the real teaching process in classess. Dan takdir membawa saya dan belasan partner saya di salah satu sekolah di daerah Magelang, di sana saya mengenal seseorang yang akhirnya menjadi teman dekat saya, namanya P. Dia orang yang sangat baik menurut saya dan sampai sekarang juga saya masih mengganggapnya seseorang yang baik :’)

Kami menjadi dekat, sangat dekat. Dialah orang yang menguatkan ketika saya ada masalah dengan sebagian teman-teman partner yang lain, dia yang membantu saya mengisi jam Bahasa Inggris saya dengan mengiringi anak-anakmenyanyi dengan main gitar, dan saya juga kadang diminta menemaninya saat ada percobaan biologi yang aneh-aneh di kelasnya. Dan hubungan kami semakin dekat saja bahkan setelah PPL berakhir dilanjut KKN. KKN kami terpisah, P ditempatkan di Kendal sedangkan saya di Pekalongan. KKN adalah waktu terberat saya sepanjang kuliah di semester 7 dan sekali lagi P ada di tiap pagi-siang-malam saya untuk menguatkan meski lewat media sosial atau telepon saja.

Lepas KKN, hidup kembali normal. Berhadapan dengan skripsi dan revisi. Kami masih sangat dekat satu sama lain, kami bahkan sempat punya kucing peliharaan bersama, namanya Pia meskipun Pia umurnya tidak lama. Pia mati, karena sakit. Saya lebih sering menghabiskan waktu di kontrakan P daripada di kos saya sendiri. Makan, nonton, ngobrol  dan melakukan apa saja disana. Saya juga jadi kenal teman-teman kontrakan P yang alhamdulillah sangat welcome sama saya. My live seems so perfect at that time.

Sampai suatu malam, kami makan berdua. Saat itu saya tidak mengira itu akan jadi makan malam terkahir kami sebagai ‘orang yang dakat’. Waktu itu P bilang ingin belajar silat (atau apalah) dan dia minta ijin saya, saya tidak curiga dan bilang ‘ya’ karena dia juga bilang belajar itu dengan temannya, S, yg satu kontrakan. Hari itu selasa malam.

Rabu pagi, P ada kuliah jam 7 pagi dan jam 1 siang dan saya ada bimbingan di kampus. Saya yang tahu jadwalnya tidak rempong minta dihubungi atau apa, kami tidak berkomunikasi seperti line, bbm atau WA seharian itu. Sampai hari sudah sore sekitar magrib dia bbm saya, bilang dia sedang ada di kampus stikubank dan sebentar lagi saya akan dijemput karena ada seseorang mau ketemu saya. Saya bilang untuk nanti saja sehabis magrib, sholat dulu baru pergi, tapi dia memaksa. Katanya ini urgent sekali bisa sholat kalau sudah sampai disana. Saya tanya siapa yang mau ketemu, tapi dia tidak mau memberitahu,cuma menjawab, kakaknya S.

Saya sempat geer sih waktu itu, karena P ada sodara yang di Semarang saya mikirnya, mungkin mau dikenalkan sama sodaranya. Wajarkan, soalnya kami dekat sudah lumayan lama dan dikenalkan ke keluarga adalah salah satu bentuk keseriusan bagi saya. 
Oke, saya menurut saja, saya dibawa ke stikubank, sepanjang jalan  P terlihat seperti ada sesuatu yang disembunyikan olehnya,cara naik motornya juga tidak seperti biasa kelihatan sekali grusa-grusunya. Saya sempat protes tapi dia cuma bilang ‘enggaak kok..’ lalu mengalihkan pembicaraan tentang gunung Slamet yang meletus.


Sampai di tempat tujuan, disana ada teman satu kontrakan P, yaitu S berkumpul bersama beberapa orang lainnya. Saya diperkenalkan oleh P disana saya kaya jadi orang yang paling bego sedunia, perasaan saya tidak enak. Salah seorang dari mereka, yang memperkenalkan diri sbg Mas R spontan tanya kenapa wajah saya hitam, saya jawab ‘ini? Jerawat?’ sambil nunjuk bekas jerawat saya yang ga ilang-ilang, mas R menggeleng ‘seluruh wajah kamu item.’ Duaaar apa-apaan ini? Kayaknya saya baik-baik aja kok ‘kamu sering sesak nafas kan? Kamu sering pusing kan? Terus kamu kadang suka lemes kan?’ itu pertanyaan yang secara frontal mas R tanyakan ke saya dari hanya melihat saya saja. Kalau dari sana saya merasa aneh dan tidak nyaman, wajar kan?

Habis mereka sholat (saya sedang berhalangan waktu itu) saya diajak mereka ke tempat samping minimarket tidak jauh dari kampus disana ada beberapa bangku yang sepertinya memang biasa untuk nongkrong mahasiswa di situ. Di sana saya dan P duduk bersebelahan, di depan saya ada mas R dan disebelahnya ada S juga beberapa orang lain. Jumlah kami semuanya sekitar 7-8 orang duduk di dua bangku mengelilingi satu meja panjang. Saya mulai ditanyai macam-macam, tentang P juga. Mas R bilang hubungan saya dan P tidak sehat karena saya hanya menganggap dia sebagai ‘anak’ karena saya sering tidak terbuka pada P dan P hanya menganggap saya sebagai ‘barang’ saja. Mas R bilang hubungan kami tidak pantas untuk diteruskan dan P sebenarnya adalah orang yg berbahaya untuk saya. 

Dari awal saya merasa sedekat-dekatnya kita sama seseorang, tetap saja ada privasi yang harus dijaga. Tidak semua bisa diceritakan, apalagi status suami-istri belum ada. Memang banyak hal yang tidak saya ceritakan pada P karena saya merasa tidak ada masalah dengan ‘terbatasnya informasi yang saya berikan’ toh kalau saya cerita belum tentu P paham dan bisa kasih solusi kan? Dan selama saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri kenapa harus cerita menye ke orang lain? Selain itu sejauh ini kami baik-baik saja kok. Mas R juga bilang kalau hubungan yang baik itu tidak seperti itu, tapi harus terbuka satu sama lain tentang apa saja. Dia juga bilang sifat saya yang seperti itu karena pengaruh keluarga saya,dia bilang keluarga saya ada masalah. Dan dia ‘memaksa’ saya untuk cerita. Saya bingung mau cerita apa, karena saya merasa keluarga saya baik-baik saja. Satu-satunya masalah ya mungkin masalah keuangan yang agak lemah setelah bapak kecelakaan. Dan di mas R hal itu dibesar-besarkan. Padahal saya tidak merasa ada yang salah dengan keuangan keluarga yang melemah, kami jadi sering sholat duha, jadi sering bangun sahur dan puasa senin-kamis bersama, jadi semakin taat ibadahnya. Jadi menurut saya itu bukan masalah. Lagipula setiap keluarga pasti ada masalahnya masing2 kan?

Lalu P yang diajak bicara, P bilang sebelum ketemu saya dia hanya memanfaatkan pacar-pacarnya sebagai laki-laki dia adalah sosok playboy yang hanya mementingkan kesenangan saja. Sebelum bertemu dengan saya, selingkuh adalah hal biasa lalu dia minta maaf ke saya. Jujur saya yang denger itu tidak kaget, saya sudah tahu kok kalau P adalah orang yang seperti itu jadi ya saya cuma ‘ya ya ya’ saja dengan muka datar. P juga bilang keluarganya adalah keluarga yang bermasalah,bapaknya sosok yang kaku, P bahkan sempat pengen membunuh beliau. Oke, saya juga sudah pernah dengar kalau bapaknya P adalah sosok yang kuat agamanya, dengan P yang seperti itu keinginan pengen bunuh bapaknya sendiri buat saya tidak bikin saya kaget, lagi lagi saya Cuma ‘ya ya ya’ dan sepertinya reaksi saya yang seperti itu adalah reaksi yang tidak diharapkan oleh orang-orang yang ada disana..haha

Lanjut lagi soal P, mas R bilang ada sesuatu di tubuh P yang dia dapat dari ajimat waktu P masih di SMP. Ya, dulu juga saya pernah dengar P secara tidak sengaja mendapat ajimat (berupa kertas dangan tulisan arab yang ditaruh di dompet) dari mengantar mbak sepupunya dari ‘orang pintar’. P yang tidak tahu apa-apa membuang tulisan itu ke sungai, tapi makhluk yang dibawa oleh ajimat itu ternyata masih ada di tubuh P dan mas R mau membantu mengusirnya. Mas R juga beberapa kali bertanya ke saya ‘kamu pengen tahu ga aku siapa?’ saya dengan cengo-nya (sebenernya saja juga ga peduli itu mas siapa ya) jawab ‘lha siapa mas?’, masnya dengan senyum tipis jawan ‘tanya sama S’. Oke, mas R berkali-kali tanya seperti itu ke saya dan semakin lama males juga ya, ga mau ngasih tau yaudah, toh saya ga kepo-kepo banget orangnya apalagi saya udah males ada disitu  (-______- )

Oh iya selain itu mas R juga tanya,apa saya percaya kalau dia bisa meletuskan gunung slamet? Saya ga jawab percaya/tidak. Dia bilang lagi tadi sebelum kesini dia melakukan deal-deal-an dengan P tentang gunung slamet mau diletuskan atau tidak dan P bilang pengen gunung itu diletuskan. P juga tadi waktu di jalan sempat tanya apa gunung slamet meletus, saya jawab di tv sih tadi cuma batuk. Mas R senyum. Dia bilang bisa meletuskan gunung, bahkan krakataupun bisa tapi dia masih memilih untuk tidak, karena benua asia dan australia bisa hancur kalau krakatau meletus. Saya cuma bilang ‘ooo...’ dengan ekspresi ( -_____-)

Kami ada di tempat itu sampai sekitar jam 8, salah seorang mbak yang sepertinya adalah pacar mas R minta nonton ke bioskop, saya pikir ini kesempatan untuk saya pulang. Sekali lagi saya merasa tidak nyaman disana, sebisa mungkin saya pengen cepet balik ke kosan. Tapi gagal, saya sudah kasih beberapa alasan tapi tetep tidak dibolehin pulang, dari pengen ngerjain skripsi (dibilangnya jangan terlalu ngejar gelar di kasih orang, gelar yg dikasih Allah lebih penting) sampe alasan laper (akhirnya ditawarin makan bareng mereka). Dan akhirnya saya pasrah diajakin mereka nonton dan sebelumnya makan dulu di Paragon.

(bersambung...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yellow Crown